News &
Updates

News Image

Share

Ada Apa dengan Satu Maret?
1 Maret 2024

Kampus Ursulin-Surabaya, Sanmarian, tahukah Anda bahwa hari ini adalah hari yang penting dan historis loh. Ada apa ya …? Emm… tepatnya pada hari ini, 75 tahun yang lalu, di Yogyakarta terjadi peristiwa yang dikenal sebagai Serangan Umum Satu Maret. Apa itu ya, sobat sanmarians? Serangan Umum Satu Maret adalah serangan yang dilakukan TNI terhadap Kota Yogyakarta pada 1 Maret 1949. Serangan tersebut bertujuan mendukung perjuangan yang dilaksanakan secara diplomatis dan meningkatkan moral rakyat serta TNI yang sedang bergerilya. Selain itu, serangan ini juga menjadi bukti kepada dunia internasional bahwa TNI mempunyai kekuatan ofensif dan mematahkan moral pasukan Belanda (Kamus Sejarah Indonesia Jilid 1; A.B. Lapian dkk [1996]). 

Jadi, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, tantara kolonial Belanda kembali datang dan menguasai sebagian besar wilayah Republik Indonesia (1945-1949). Wilayah Republik Indonesia hanya meliputi Jawa Tengah, Yogyakarta, Sumatera.  Kok bisa ya, sobat sanmarians, padahal kan kita sudah memproklamasikan kemerdekaan kita dari penjajah Belanda?   

Sobat sanmarians, pada 14-15 Agustus 1945 Jepang menyerah kalah kepada sekutu. Hal tersebut diumumkan oleh Kaisar Hirohito melalui siaran radio pada 15 Agustus 1945. Dengan menyerahnya Jepang kepada sekutu, maka wilayah-wilayah bekas pendudukan Jepang akan menjadi tanggungjawab sekutu (tirto.id), sebab wilayah-wilayah tersebut sebelumnya adalah wilayah kekuasaan sekutu, termasuk Belanda. Sekutu akan datang ke Indonesia untuk melucuti tantara Jepang, menjaga keamanan dan ketertiban di Indonesia. 

Sumber: afr.com

Nah, sobat sanmarians, sebelum sekutu tiba di Indonesia, Belanda dan Inggris telah terlebih dulu menandatangani Perjanjian Bersama (Civil Affairs Agreement). Perjanjian tersebut mengatur pemindahan kekuasaan di Indonesia dari British Military Administration ke NICA atau Netherland Indies Civil Administration, Pemerintahan Sipil Hindia Belanda (Kompas.com). 

Dengan demikian, NICA kemudian membonceng tantara sekutu untuk kembali ke Indonesia. Adapun tujuan NICA datang ke Indonesia adalah agar Belanda dapat kembali menguasai Indonesia atau lebih tepatnya menguasai sumber daya alam Indonesia dan hendak menjadikan Indonesia sebagai negara boneka (Intisari-Online.com). 

Keberhasilan NICA ini tidak lepas dari kondisi politik dalam negeri Belanda. Dr Willem Drees terpilih menjadi Perdana Menteri menggantikan Dr L.J.M. Beel. Sedangkan Dr Beel sendiri diangkat menjadi Hooge Vertegenwoordiger van de Kroon (Wakil Tinggi Mahkota) Belanda di Indonesia. Dia menggantikan van Mook sebagai Wakil Gubernur Jenderal. Dr Beel adalah termasuk seorang garis keras dan dekat dengan kalangan pengusaha di Belanda, yang mana mereka adalah kelompok orang yang tidak ingin memberikan konsesi apapun kepada Indonesia. Di sisi lain, kondisi tersebut bagi Letnan Jenderal Spoor, yang memang ingin menghancurkan TNI, merasa mendapatkan dukungan politis (idsejarah.net). 

Tantara sekutu dan NICA tiba di Indonesia pada 29 September 1945. Setibanya di Indonesia, tantara NICA kemudian tersebar ke beberapa daerah seperti di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya. Tujuan mereka adalah membebaskan tantara KNIL yang tadinya ditahan oleh tantara Jepang, dan mempersenjatai tentara KNIL (kumparan.com; M.C. Ricklefs [2001]). Tak pelak, tindakan tantara NICA itu membuat rakyat Indonesia menjadi resah dan marah bahkan nantinya menimbulkan perlawanan. Tentara Belanda sendiri semakin gencar beraksi dan akhirnya melakukan agresi militer pertama dan kedua. Mereka bahkan tidak mengindahkan hasil dari Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville (Sri Margana dkk [2022]). 

Tentara Belanda terus memperluas aksinya bahkan masuk ke Yogyakarta, yang merupakan Ibu Kota Negara Republik Indonesia ketika itu sebagai akibat dari menyempitnya wilayah Indonesia, yang mana hal tersebut adalah dampak dari Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville. Pada Desember 1948, tentara Belanda melakukan agresi militer kedua ke wilayah Yogyakarta. Hasilnya adalah Yogyakarta dikuasai tantara Belanda, dan bahkan mereka menangkap Presiden Soekarno dan Waki Presiden Mohammad Hatta beserta jajaran kepresidenan seperti Sutan Syahrir, M Roem, Agus Salim, dll (kumparan.com). 

Sebagai respons atas agresi Belanda tersebut, banyak tokoh heroik bangsa Indonesia, seperti dari TNI, Kepolisian, laskar, ulama, santri hingga rakyat biasa telah bahu membahu melakukan gerilya dan perjuangan melawan tentara Belanda. Mereka semua, dimotivasi, diajak, digerakan oleh para founding fathers di bawah kepemimpinan Soekarno dan Mohammad Hatta, Panglima Besar Jenderal Soedirman, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Syafruddin Prawiranegara, dan tokoh-tokoh penting lainnya (Sri Margana dkk [2022]). 

Akhirnya, pada 1 Maret 1949, setelah mendapatkan saran dan nasihat dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Surdirman, TNI melakukan Serangan Umum. Serangan Umum tersebut dilakukan pada pagi pukul 06.00 setelah sirene tanda berakhirnya jam malam. Serangan ini terjadi di berbagai penjuru kota Yogyakarta dengan dikomando oleh Letkol Soeharto dari sisi Barat sampai batas Malioboro, sisi Barat sendiri dikomando oleh Ventje Sumual, sisi Selatan dan Timur dikomando oleh Mayor Sardjono, sisi Utara dikomando oleh Mayor Kusno, sedangkan dari sisi dalam kota dikomando oleh Letnan Amir Murtono dan Letnan Masduki (A.B. Lapian dkk [1996]).

Dalam Serangan Umum tersebut, prajurit TNI tidak sendirian sebab diantara yang terlibat terdapat juga para pemuda gerilyawan yang berjumlah 2000 personil dan mereka mengenakan simbol janur kuning di dada kiri mereka. Karena itu, Serangan Umum ini juga dikenal dengan sebutan Operasi Janur Kuning (Pramoedya Ananta Toer dkk [2014]). Pasukan TNI dan para gerilyawan ini berhasil menguasi dan menduduki kota Yogyakarta selama 6 jam. Hal tersebut terjadi karena pukul 12.00 pasukan TNI dan personil gerilyawan mengundurkan diri ke luar kota. 

Nah, demikian sobat sanmarians kisah historis tentang Serangan Umum 1 Maret 1949 (Operasi Janur Kuning). Marcus Tullius Cicero pernah menulis historia magistra vitae, nuntia vetustatis (Sejarah adalah guru kehidupan dan pesan dari masa silam). Berdasarkan perkataan Cicero tersebut, terang saja bahwa belajar Sejarah memberikan manfaat, misalnya manfaat edukatif (pembelajaran apa yang didapat?), manfaat inspiratif (inspirasi apa yang dihasilkan dari belajar peristiwa historis?). Sebagai contoh, studi atas peristiwa historis 1 Maret 1949 telah menghasilkan karya film berjudul “Enam Jam di Jogja” dan “Janur Kuning” (youtube.com). 

Nah, yukk, sobat sanmarians, gali inspirasi dari peristiwa hidupmu (pengalaman orang lain) dan hasilkan karya-karya produktif.      

Penulis : Adrianus Beda, S.S., M.M., Guru Sejarah SMA Santa Maria Surabaya.