Kampus Ursulin – Surabaya, Sanmarian, Hari Pahlawan Republik Indonesia yang diperingati setiap tanggal 10 November adalah salah satu momen bersejarah bagi rakyat Indonesia sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Peringatan ini akan terus menjadi pengingat bagi seluruh bangsa Indonesia akan nilai-nilai kepahlawanan dan semangat nasionalisme yang harus terus dijaga. Begitu pula halnya dengan peserta didik SMA Santa Maria Surabaya yang turut menyambut Hari Pahlawan 10 November melalui rangkaian kegiatan upacara bendera hingga menikmati pertunjukan Teatrikal Perjuangan. Upacara diikuti oleh seluruh peserta didik di kampus Santa Maria Surabaya dan dilaksanakan secara langsung di lapangan Tumapel. Untuk menghidupkan semangat kepahlawanan dalam jiwa peserta didik, maka khusus peringatan Hari Pahlawan seluruh siswa diwajibkan menggunakan pakaian bertemakan pahlawan. Tentunya hal tersebut tidak menjadi masalah bagi para siswa. Mereka dengan penuh semangat mengenakan pakaian pahlawan yang bervariasi, sehingga sangat mencerminkan jiwa patriotisme yang ada.
Bertindak sebagai pembina upacara, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Marselina Lilies Dwiyulianita, S. Pd. memberikan amanat dengan mengusung tema Hari Pahlawan ke-78 yaitu “Semangat Pahlawan untuk Masa Depan Bangsa dalam Memerangi Kemiskinan dan Kebodohan.” Dalam amanatnya Ibu Lilies, demikian beliau biasa disapa, berpesan pada generasi muda yang akan dihadapkan pada tantangan untuk memajukan bangsa dan negara, serta diharapkan dapat mengatasi ancaman dengan semangat perjuangan seperti yang telah ditunjukkan oleh para pahlawan. Upacara berjalan dengan tertib dan khidmat. Setelahnya, upacara diakhiri dengan beberapa kalimat motivasi dari beberapa pahlawan yang dibacakan langsung oleh perwakilan siswa. Kegiatan dilanjutkan di kelas masing-masing dan diisi dengan perlombaan bedah kasus.
Perlombaan ini wajib diikuti oleh seluruh anggota kelas. Kasus yang harus dipecahkan oleh masing-masing anggota kelas berupa kasus satwa liar yang hilang, antar peserta didik dalam kelas harus saling bekerjasama menemukan satwa apa yang hilang beserta pelakunya. Adanya lomba bedah kasus ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta mengasah kemampuan critical thinking dan problem solving peserta didik agar mampu menjadi pahlawan masa kini sesuai dengan versi terbaik dari masing-masing pribadi. Setelah puas melakukan kegiatan di kelas masing-masing, acara berikutnya akan dilakukan di aula. Di sini peserta didik diajak untuk melihat tampilan cosplay tokoh pahlawan oleh perwakilan pasangan masing-masing kelas. Pada kegiatan ini sangat terlihat nilai kepahlawanan mulai tumbuh dalam diri setiap peserta didik. Mereka mampu menirukan gaya pahlawan dari beberapa daerah serta melakukan orasi sesuai dengan ciri khas pahlawan masing- masing. Dengan adanya kegiatan ini generasi muda diharapkan dapat memaknai dan mengamalkan nilai-nilai pahlawan sebagai bentuk menghargai jasa pahlawan yang telah gugur. Kegiatan cosplay pahlawan ini disaksikan dan dinilai langsung oleh Catharina Ratna Ameliawati, S.Pd. dan Dra. Maria Rosalia, M.H.
Tentunya diakhir kegiatan ini ada apresiasi bagi pasangan yang dapat menirukan serta mendalami gaya pahlawan dengan sangat baik. Puncak acara kegiatan Hari Pahlawan ini ditutup dengan teater perjuangan bertajuk “Bondho Nekat.” Teater ini menceritakan mengenai perjuangan arek-arek Suroboyo kala itu dalam merebut kembali kemerdekaan. Salah satu peristiwa penting, yaitu perobekan bendera Belanda juga ditampilkan dalam rangkaian cerita teater tersebut. Pemeran yang berkontribusi di dalamnya adalah perwakilan kelas yang dipilih langsung oleh panitia. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para siswa dapat menghidupkan nilai heroik melalui peran Bung Tomo dan warga Surabaya yang berjuang. Selain itu diharapkan juga para siswa mampu menghayati dengan baik nilai cinta tanah air, semangat kebersamaan, dan tanggung jawab untuk mempertahankan bangsa Indonesia.
Penulis: Gabriella Nava Prihastanti, Siswi XII MIPA 3, SMA Santa Maria Surabaya