News &
Updates

News Image

Share

Kisah Anak Pertukaran Pemuda Rotary
22 Februari 2024

Kampus Ursulin-Surabaya. Sanmarian, Halo, perkenalkan, nama saya Nicholas, saya merupakan seorang InBound dari RYE District 3420, yang sedang berada di Amerika. Secara khusus, saya hidup di Springfield, Illinois. Springfield adalah kota yang cukup ramai, sekitar seratus ribu orang. Memang lebih kecil daripada Surabaya, kampung halaman saya, tapi masih terasa ramai dan hangat. Iklim di sini lebih dingin daripada iklim tropis di Surabaya, terutama karena iklim di Springfield sekarang adalah iklim dingin.

Masyarakat Springfield terasa ramah dan tenang dengan banyak sekali lukisan dinding yang menghiasi gedung-gedung di kota. Menurut saya, apresiasi akan karya-karya seni ini sangat patut ditiru karena memberi kesempatan untuk para seniman kecil berkarya secara kreatif dan menunjukkan hasil mereka di tempat umum agar bisa dinikmati oleh masyarakat. Saya berharap Surabaya bisa menyediakan tempat umum yang khusus bagi para seniman untuk berkreasi dan berkarya agar bisa membuat suasana Kota Pahlawan menjadi lebih indah dan meriah.

Apresiasi masyarakat Amerika dengan seni musik pun patut ditiru, dengan sekolah di Amerika yang membanggakan orkestra dan band mereka. Dari pengamatanku sendiri, masyarakat Amerika mempunyai beberapa kemiripan dengan masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah masyarakat ini merupakan masyarakat multikultural karena Amerika mempunyai banyak keluarga atau penduduk imigran yang berasal dari belahan-belahan dunia yang berbeda. 

Saya pun sempat bertemu pemilik restoran yang berasal dari Jakarta. Namun sayang, terkadang saya merasa bahwa keberagaman ini kurang ditonjolkan atau diapresiasi oleh masyarakat Springfield dan kota-kota lain di Amerika. Persamaan lain yang saya temui adalah semangat nasionalisme yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia dan Amerika. Banyak rumah yang mengibarkan bendera Amerika dan banyak penduduk Amerika yang bangga menjadi warga negara. Negara ini, mirip sekali dengan warga negara Indonesia. Menurut saya, ini adalah hal yang bagus dan pantas dicontoh. Namun, perlu diperhatikan agar tidak berlebihan.

Saya sekarang bersekolah di GlenwoodHighSchool. Sebuah SMA yang berada di desa yang terhubung dengan Springfield. Populasi sekolah ini sekitar seribu anak. Mulai dari kelas IX sampai kelas XII. Suasana sekolah ini cukup ramai. Namun, banyak teman yang ramah. Saya di sekolah lebih fokus ke musik. 

 Oleh karena, sekolah saya di Surabaya tidak mempunyai banyak program musik. Serta, beberapa mata pelajaran, seperti psikologi, juga tersedia belum tersedia di sekolah saya. Untuk kehidupan sosial, saya secara pribadi sudah menggunakan bahasa Inggris sejak kecil. Jadi, adaptasi saya secara sosial cukup lancar. Namun, terkadang saya memaksakan diri saya untuk bersosialisasi sebab saya sedikit malu dengan orang yang tidak dikenal. 

Di program pertukaran ini, ada istilah Host Family, atau keluarga asuh. Sekarang, saya sudah berada di keluarga asuh yang kedua. Keluarga asuh saya sekarang terdiri atas seorang ibu mandiri dan dua adik asuh. Mereka bertiga merupakan keluarga yang kecil, tapi cukup ramai. Sepanjang hidup saya, saya terbiasa dengan kehidupan sebagai anak tunggal, tanpa kakak-adik. Jadi, saya akui bahwa sampai sekarang, masih perlu ada adaptasi dengan kehidupan dengan saudara. 

Namun, saya sudah mulai terbiasa dan tidak ada masalah sama sekali. Teman-teman adik asuh saya datang ke rumah hampir setiap hari dan terkadang saya ikut bersosialisasi dengan mereka. Namun, seringkali saya beristirahat karena lelah bersekolah. Jadi, saya tidak ikut dalam permainan atau candaan mereka. Namun, tak jarang saya berbicara dan bercanda dengan adik-adik asuh saya. Mereka merupakan individu dengan kepribadian yang sangat terbuka, santai dan ramah. 

Sejauh ini, kedua keluarga asuh saya merupakan keluarga yang baik dan saya mengapresiasi keberadaan mereka. Mereka selalu mendukung saya setiap hari dalam hidup di sebuah negara yang terkadang masih terasa asing untuk saya. Dan, saya senang bisa mempunyai kesempatan untuk hidup dengan mereka.

Menurut saya, yang perlu disiapkan sebagai murid pertukaran adalah kemampuan beradaptasi dan sifat terbuka untuk budaya asing. Sekarang, ada 8 miliar manusia berbeda di dunia ini. Semua dengan perbedaan per-individu. Tidak mungkin kita bisa bertemu manusia yang sama persis dengan kita, baik secara fisik atau mental. 

Jadi, kita harus belajar untuk menghargai dan mencintai sesama manusia, tidak memandang perbedaan, sesuai dengan semboyan Tanah Air kita, “Bhinneka Tunggal Ika”. Semangat kita sebagai warga negara dari Indonesia yang multikultural merupakan hal yang patut kita siapkan untuk hidup di luar negeri. Sebab, kita akan memulai kehidupan baru di tanah asing dengan budaya yang jauh berbeda dengan budaya kita sendiri. Maka, diperlukan sifat terbuka terhadap budaya baru, dan kemampuan adaptasi yang tinggi. Sebab, kita perlu belajar adat-istiadat di negara tujuan kita. 

Kita tidak bisa memaksakan adat istiadat Indonesia kepada mereka, sebab kita berada di tempat hidup mereka dan kita patut menghargai adat-istiadat lokal. Mereka pun juga wajib menghargai kita sebagai orang Indonesia. Jadi, beradaptasi merupakan kemampuan yang sangat kritikal agar kita bisa membaur dengan hidup di luar negeri dan bisa mendalami budaya yang ada di masyarakat tersebut.

 

(PenulisNicholas Putra Sedijotomo, Siswa SMA Santa Maria Surabaya (Siswa Exchange Program Rotary Youth Exchange)