Kampus Ursulin – Surabaya, Sanmarian, judul di atas adalah sebuah kutipan dari Sigit Pawanta, SVD, yang biasa disapa dengan romo Sigit, ketika membawakan materi retret yang diadakan di rumah retret Bintang Kejora, Pacet pada 25 – 27 Oktober 2023 lalu. Kutipan tersebut selaras dengan tema dari retret tahun ini yaitu, “Menjadi Lebih Baik, Berkembang dan Berbuah”. Acara yang diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan Yayasan Paratha Bakti ini dibagi menjadi tiga gelombang dan kebetulan saya mengikuti retret gelombang kedua.
Retret ini berjalan dengan lancar dan sangat menarik. Hari pertama diawali dengan misa, penjelasan tujuan retret, gambaran acara dan pengenalan tema. Tujuan utama dari retret ini adalah menyediakan waktu untuk para guru dan tenaga kependidikan untuk sejenak undur diri dari rutinitas dan menyegarkan lagi jiwa dan raga yang sudah lelah. “Di dalam retret ini kita harus bisa duc in altum” ujar romo Sigit, yang artinya adalah menyelam ke kedalaman batin masing-masing, agar dapat berefleksi dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Di hari kedua retret kami diajak untuk mendalami materi dengan banyak berdiskusi dan sharing kelompok. Kami membagikan pengalaman pribadi kami dalam kelompok-kelompok kecil. Di situ kami menceritakan kegelisahan-kegelisahan dan beban hidup kami, baik sebagai pendidik maupun pribadi. Di akhir sharing kami saling menguatkan dan mendoakan. Romo Sigit juga kerap kali membawakan materi dengan menceritakan pengalaman beliau baik dalam kehidupannya sebagai seorang pastur maupun sebagai seorang anak dalam keluarganya. Romo Sigit bisa menceritakan pengalamannya dengan sangat menarik dan tak jarang dibumbui dengan guyonan yang lucu sehingga para pendengar tidak bosan dan memperhatikan hingga akhir.
Di hari kedua ini kami juga diminta untuk membuat sebuah karya seni sebagai rangkuman hasil diskusi kami tentang buah-buah yang harus dimiliki oleh para guru dalam pendidikan dan hambatan-hambatannya. Para guru begitu antusias ketika berdiskusi dan menerjemahkannya dalam sebuah gambar. Setelah gambar selesai kami diminta untuk mempresentasikan di depan dan menjelaskan artinya. Sebagian besar menjawab bahwa buah-buah yang harus dimiliki oleh para guru adalah kesabaran, cinta kasih, dan rela berkorban. Sedangkan hambatan-hambatan yang ditemukan sebagian besar adalah keegoisan, rasa malas, dan rasa sungkan. Dalam sesi malam, romo Sigit memberikan materi tentang keluarga. “Materi tentang keluarga ini begitu penting, mengingat akhir-akhir ini banyak permasalahan pelik yang terjadi di dalam keluarga, baik itu hubungan orang tua-anak, ataupun menantu dan mertua” jelas romo Sigit. Jika hubungan antar anggota keluarga baik, maka keutuhan keluarga juga akan terjaga tambah beliau.
Hari ketiga adalah hari terakhir dari rangkaian retret ini. Retret ditutup dengan misa dan di hari terakhir ini romo mengajak kami untuk berefleksi kembali dan mengingat segala proses yang sudah dilewati. Terima kasih Romo Sigit, di akhir retret kami menjadi paham bahwa apapun keadaan yang dilalui, sebagai seorang pendidik maupun sebagai pribadi, kami harus selalu menghasilkan sesuatu yang baik. Seperti sebuah pohon yang berbuah, ia berguna bagi semua yang ada di sekitarnya, demikian juga kita harus menjadi manusia yang berguna bagi sesama kita.
(Penulis: Leo Agung Bayu Wijanarka, S. Pd., guru Bahasa Inggris SMA Santa Maria Surabaya)