Kampus Ursulin-Surabaya. Sanmarian, “Perasaan saya adalah luar biasa dan saya merasa bernostalgia karena saya pernah mengikuti perkuliahan di sini selama satu setengah tahun. Selain itu, saya merasa muda kembali karena melihat para mahasiswa-mahasiswi yang muda-muda, yang mana mereka adalah alumni sekolah kami.” Demikian respons Bu Rosa, ketika diwawancara oleh pembawa acara (Aurelia Kimberly, Mahasiswi semester 5 Fakultas Hukum Ubaya, seorang alumni SMA Santa Maria) sebelum acara dimulai. Interview singkat dan sederhana tersebut adalah sebagai pembuka dari kegiatan workshop dengan tema “Best Practice Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di SMA Santa Maria” yang diadakan oleh Fakultas Hukum UBAYA di UBAYA untuk para guru SMA Santa Maria Surabaya.
Workshop ini menghadirkan dua pakar hukum sebagai pemateri dan pemantik diskusi. Beliau adalah Dr. Hwian Christianto, S.H., M.H., Dekan Fakultas Hukum UBAYA, dan Dr. Elfina Lebrine Sahetapy, S.H., L.L.M., Wakil Dekan Fakultas Hukum UBAYA dengan dimoderatori Aldi Christian, Mahasiswa semester 5 Fakultas Hukum UBAYA, yang juga seorang alumnus SMA Santa Maria Surabaya.
Acara dibagi dalam dua sesi. Pada sesi pertama, pemateri dan pemantik diskusi dibawakan oleh Dr. Elfina dengan topik “Arah Kebijakan Permendikbudristek No. 46 Tahun 2023 dan Pencegahan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan”. Dr. Elfina mengawali pemaparannya dengan mengetengahkan data tindak kekerasan yang terjadi di lingkungan Satuan Pendidikan berdasarkan data yang dikeluarkan oleh kemendikristek, yakni terdapat 127 kasus tindak kekerasan. Menurutnya, data tersebut masih bisa disangsikan, karena dalam faktanya jumlah kasus tindak kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan bisa lebih dari 127 kasus. Sementara itu, menurutnya, dengan menyitir prinsip dasar (filosofi) penyelenggaran Pendidikan, bahwa adalah hak setiap warga Satuan Pendidikan untuk mendapatkan lingkungan yang aman, nyaman, ramah, dan menyenangkan. Oleh karena itu, adalah wajib hukumnya untuk memberikan perlindungan kepada setiap warga Satuan Pendidikan dari tindak kekerasan dengan cara melakukan pencegahan.
Pada sesi kedua, pemateri dan pemantik diskusi dibawakan oleh Dr. Hwian dengan topik “Best Practice Pencegahan dan Penanganan Kekerasan”. Dr. Hwian lebih banyak mengupas tentang jenis-jenis tindak kekerasan beserta tujuan dilakukannya tindak kekerasan tersebut oleh pelaku. Menurutnya terdapat beberapa jenis tindak kekerasan, yakni kekerasan psikis, kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan cyber, kekerasan budaya dan simbolik, kekerasan ekonomi, dan sebagainya. Dengan mengutip pernyataan Bung Karno bahwa apa yang kamu inginkan orang lain perbuat kepadamu, perbuatlah itu juga kepada orang lain, yang mana ternyata pernyataan tersebut sesuai dengan ajaran kasih Tuhan Yesus, maka, menurut Dr. Hwian, sangatlah perlu dan penting melakukan tindak (dan gerakan) pencegahan dari tindak kekerasan di lingkungan Satuan Pendidikan. Karena, menurutnya, adalah lebih baik dan mudah mencegah daripada mengobati. Namun, jika sudah terdapat kasus tindak kekerasan, maka sangat perlu melakukan penanganan secara profesional. Bagaimana caranya? Yaitu dengan adanya strategi dan mekanisme yang sesuai. Salah satunya adalah membentuk satuan tugas (satgas) dan tim pencegahan dan penanganan kekerasan (TPPK). Menurutnya, di dalam tim ini harus terdiri dari beberapa unsur, yaitu ada tenaga pendidik, perwakilan orangtua/wali murid dan komite sekolah, dan perwakilan peserta didik. Peserta didik sangat perlu dilibatkan karena belajar memberikan trust (kepercayaan) kepada mereka, sehingga merekapun memiliki trust kepada Satuan Pendidikan. Bagi Dr. Hwian, SMA Santa Maria sudah punya dasar yang baik untuk membentuk satgas dan TPPKS dengan adanya enam core values. Karena itu, Dr. Hwian mengharapkan agar SMA Santa Maria Surabaya dapat menjadi inisiator bagi terwujudnya satgas dan TPPKS di Satuan-satuan Pendidikan di Jawa Timur ini.
Bagi Sebagian besar para guru SMA Santa Maria Surabaya, materi ini cukup baru. Karena itu, para guru antusias dalam mengikuti workshop ini. Apalagi workshop ini dikemas dengan cukup menarik, di antara acaranya, diselipkan testimoni dari dua alumni SMA Santa Maria Surabaya tentang nilai-nilai yang sudah mereka dapatkan di bangku sekolah dan sekarang masih sangat relevan dengan keseharian mereka di bangku perkuliahan dan juga kerja (dosen di Fak. Hukum UBAYA). Di samping itu juga terdapat games yang dibawakan oleh beberapa mahasiswa dari UKM Art UBAYA. Oleh karena itu, dalam sambutannya mewakili para guru, Bu Nike, Kepala Satuan Pendidikan SMA Santa Maria Surabaya, menyampaikan banyak terimakasih kepada Fakultas Hukum UBAYA serta berharap agar kerjasama ini terus terjalin ke depannya dan sekaligus mengharapkan dukungan dan pendampingan dalam mewujudkan apa yang menjadi harapan Dr. Hwian bagi Satuan-satuan Pendidikan.
Syalom. Tuhan memberkati.
Penulis : Adrianus Beda, S.S., M.M. (Guru SMA Santa Maria Surabaya)