News &
Updates

News Image

Share

Melampaui Batas dalam Pelayanan: Perjalanan Akhir Live-in Desa Kelas XII SMA Santa Maria Surabaya
20 April 2026

Surabaya, Kampus Ursulin. Menjelang kelulusan, peserta didik kelas XII SMA Santa Maria Surabaya menjalani kegiatan live-in desa sebagai tahap akhir dari rangkaian pembelajaran bermakna, yang sebelumnya diawali dengan Respect and Serve Others (RSO), Serviam Project, dan live-in profesi. Kegiatan ini juga menjadi kelanjutan dari pengalaman live-in budaya, dengan pendalaman yang lebih nyata dalam kehidupan masyarakat.

Live-in desa dilaksanakan pada tanggal 7–10 April 2026 di wilayah Wonogiri, yang terbagi ke dalam empat lokasi, yaitu Ngadiroyo, Kedungrejo, Jamprit, dan Selopuro. Setiap kelas ditempatkan di wilayah yang berbeda untuk belajar langsung dari masyarakat setempat.

Selama kegiatan, peserta didik tinggal bersama "guru kehidupan" dan mengikuti aktivitas sehari-hari, seperti berkebun, bekerja di sawah, serta menjalani rutinitas sederhana. Dari pengalaman ini, peserta didik belajar tentang sopan santun, saling menghargai, tanggung jawab, serta kerja keras sebagai wujud nyata nilai-nilai Serviam dalam kehidupan.

Peserta didik juga melaksanakan program GBTB (Go Beyond the Borders), yang menjadi kesempatan untuk keluar dari zona nyaman dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan beragam, seperti mengajar anak-anak, membuat permainan, hingga melakukan kegiatan kebersamaan dengan warga.

Dalam pelaksanaannya, tidak semua rencana berjalan mulus. Beberapa kelompok perlu melakukan penyesuaian karena kondisi di lapangan. Salah satu wilayah mengganti program menjadi kegiatan malam rukun warga Katolik yang diisi dengan doa bersama, permainan, serta berbagi cerita. Persiapan dilakukan dengan membuat undangan bertema Paskah dan menyiapkan hidangan sederhana yang menciptakan suasana hangat dan penuh kebersamaan.

Sementara itu, wilayah lain tetap menjalankan program seperti rally games dan kegiatan interaktif yang berkembang secara kreatif sesuai kebutuhan masyarakat. Hal ini menunjukkan kemampuan peserta didik dalam beradaptasi dan tetap memberikan kontribusi terbaik.

Sebagai penutup, pada tanggal 14 April 2026, peserta didik mempresentasikan pengalaman mereka di hadapan guru serta adik kelas X dan XI. Presentasi ini menjadi sarana refleksi sekaligus inspirasi bagi kegiatan serupa di masa mendatang.

Pada akhirnya, live-in desa bukan sekadar kegiatan, melainkan proses pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih peka, tangguh, dan siap melayani sesama.

Penulis: Vivian Nathaniela Tonana (Siswa Kelas XII SMA Santa Maria)