Palembang - Liburan Natal 2025 menjadi momen yang sangat bermakna bagi saya dan seluruh keluarga besar. Liburan ini tidak sekadar menjadi waktu untuk beristirahat dari rutinitas sehari-hari, tetapi kami manfaatkan sebagai ajang mempererat tali kekeluargaan melalui tradisi adat Batak yang sarat akan nilai kebersamaan, gotong royong, dan refleksi diri. Pada tanggal 1 hingga 3 Januari, saya berkesempatan pulang ke Palembang, tempat Opung (kakek/nenek) tinggal, untuk mengikuti secara langsung dua kegiatan adat Batak yang sangat penting, yaitu Marbinda dan Mandok Hata.
Kedua tradisi ini bukan hanya sekadar ritual turun-temurun, melainkan juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda agar tetap mengenal, memahami, dan mencintai budaya leluhur di tengah arus modernisasi.
Perjalanan menuju Palembang terasa istimewa karena bukan hanya tentang jarak yang ditempuh, melainkan tentang tujuan yang penuh makna. Setibanya di rumah Opung, suasana hangat langsung terasa. Seluruh anggota keluarga, mulai dari yang muda hingga yang tua, berkumpul dalam satu rumah. Canda, tawa, serta cerita lama kembali mengalir, menciptakan suasana kekeluargaan yang kental.
Kehadiran seluruh keluarga menjadi syarat penting dalam pelaksanaan adat Batak, karena inti dari tradisi ini adalah kebersamaan dan partisipasi semua pihak, tanpa memandang usia maupun kedudukan dalam keluarga.
Marbinda merupakan tradisi adat Batak yang dilakukan dengan menyembelih hewan, biasanya babi atau kerbau, secara bersama-sama untuk perayaan besar seperti Natal atau Tahun Baru. Tradisi ini melambangkan gotong royong, persatuan, dan keadilan, yang tercermin dari proses pelaksanaan hingga pembagian daging yang dilakukan secara adil kepada seluruh keluarga. Dalam konteks Natal dan Tahun Baru, Marbinda juga menjadi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berkat dan perlindungan yang telah diberikan sepanjang tahun.
Pada tanggal 1 Januari, kegiatan Marbinda dimulai sejak pagi hari. Seluruh keluarga terlibat sesuai dengan peran masing-masing. Para orang tua dan Amangboru (paman/suami dari saudara perempuan ayah) bertanggung jawab dalam proses penyembelihan dan pengolahan hewan, sementara anggota keluarga lainnya membantu persiapan tempat, memasak, serta pembagian daging.
Hal yang paling berkesan adalah suasana kerja sama yang terjalin tanpa paksaan. Semua dilakukan dengan sukarela, penuh canda, dan rasa tanggung jawab bersama. Setelah proses selesai, daging dibagi secara merata kepada setiap keluarga tanpa perbedaan perlakuan. Hal ini mengajarkan nilai keadilan dan kebersamaan, bahwa semua anggota keluarga memiliki kedudukan yang sama.
Setelah pelaksanaan Marbinda, tradisi dilanjutkan dengan Mandok Hata, sebuah ritual adat Batak yang dilakukan dengan cara berbicara dari hati ke hati di hadapan keluarga besar. Mandok Hata biasanya dilakukan pada momen-momen penting seperti Natal, Tahun Baru, pernikahan, atau pertemuan keluarga besar. Tradisi ini bertujuan untuk:
mengungkapkan rasa syukur, menyampaikan permohonan maaf, mengutarakan harapan dan resolusi ke depan, mempererat ikatan emosional antaranggota keluarga, melatih kejujuran, keberanian berbicara, dan kemampuan berbicara di depan umum (public speaking).
Mandok Hata dilaksanakan pada tanggal 2 dan 3 Januari saat anggota keluarga sudah berkumpul lengkap dalam suasana yang khidmat namun hangat. Satu per satu anggota keluarga diberikan kesempatan untuk berbicara. Tidak ada tekanan atau penilaian; semua didengarkan dengan penuh rasa hormat.
Beberapa anggota keluarga mengungkapkan rasa syukur atas kesehatan dan kebersamaan, ada pula yang menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan di masa lalu, serta harapan agar hubungan kekeluargaan semakin erat di tahun yang baru. Momen ini terasa sangat emosional karena kejujuran dan ketulusan menjadi inti dari Mandok Hata. Kegiatan ini diakhiri dengan menari bersama sebagai tanda memohon restu dari orang tua. Bagi saya pribadi, Mandok Hata menjadi pengalaman berharga yang mengajarkan bahwa komunikasi jujur dan terbuka adalah kunci keharmonisan keluarga.
Pelaksanaan tradisi Marbinda dan Mandok Hata selama liburan Natal 2025 di Palembang memberikan pengalaman yang sangat berkesan dan mendalam. Kedua adat ini mengajarkan banyak hal, mulai dari pentingnya kebersamaan, gotong royong, keadilan, hingga kejujuran dalam berkomunikasi.
Melalui kegiatan ini, saya semakin menyadari bahwa adat dan budaya bukanlah sesuatu yang kuno, melainkan warisan berharga yang membentuk jati diri dan karakter seseorang. Harapan saya, tradisi Marbinda dan Mandok Hata dapat terus dilestarikan agar nilai-nilai luhur budaya Batak tetap hidup dan relevan sepanjang masa.
Selama kegiatan adat berlangsung, kami juga melakukan dokumentasi berupa foto dan video sebagai arsip keluarga. Dokumentasi ini bukan hanya sekadar kenang-kenangan, melainkan bukti nyata bahwa tradisi adat Batak masih hidup dan dijalankan dengan penuh makna oleh keluarga kami, meskipun berada di perantauan.





Penulis: Jian Margaretha Bonita Sidabutar Siswa Kelas XI SMA Santa Maria Surabaya