News &
Updates

News Image

Share

“Papua Bukan Tanah Kosong”: Sanmar Hadiri Pemutaran dan Diskusi Film “Pesta Babi” di UC Surabaya
18 Mei 2026

Surabaya, Kampus Ursulin — Sanmaris, kegiatan pemutaran film dokumenter sekaligus diskusi publik bertajuk “Pesta Babi: Papua Bukan Tanah Kosong” diselenggarakan pada Sabtu (9/5/2026) di Universitas Ciputra. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama yang menghadirkan beragam perspektif mengenai isu kemanusiaan, sejarah, identitas budaya, serta realitas sosial masyarakat Papua.

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa dan dosen Universitas Ciputra serta sejumlah perguruan tinggi lain, para aktivis sosial dan lingkungan, hingga perwakilan siswa dan guru SMA di Surabaya. Salah satu sekolah yang turut hadir sebagai audiens adalah SMA Santa Maria Surabaya.

Acara diawali dengan pemutaran film dokumenter “Pesta Babi: Papua Bukan Tanah Kosong”, sebuah karya yang mengangkat berbagai cerita, dinamika, dan suara masyarakat Papua yang selama ini jarang memperoleh ruang dalam diskusi publik. Film ini menghadirkan sudut pandang yang kuat mengenai hubungan masyarakat adat dengan tanah, budaya, sejarah, serta perjuangan mempertahankan identitas di tengah berbagai perubahan sosial dan politik.

Sepanjang pemutaran film, para peserta diajak untuk melihat Papua bukan semata-mata sebagai wilayah geografis, melainkan sebagai rumah bagi masyarakat yang memiliki sejarah, nilai budaya, dan kehidupan sosial yang kaya. Film tersebut berhasil membangun suasana reflektif sekaligus mendorong penonton untuk mempertanyakan berbagai narasi yang selama ini berkembang di masyarakat.

Setelah sesi pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi terbuka bersama Dandhy Laksono selaku sutradara film “Pesta Babi”, Kandi Aryani Suwito, dosen FISIP Universitas Airlangga dan Universitas Ciputra, serta Mugi Bunai dari Aliansi Mahasiswa Papua. Dalam diskusi tersebut, para narasumber menyampaikan pandangan kritis mengenai berbagai isu yang diangkat dalam film, mulai dari persoalan identitas, hak masyarakat adat, pendidikan, hingga representasi Papua di media dan ruang publik.

Dalam kesempatan tersebut, Dandhy Laksono juga menyampaikan apresiasi kepada pihak penyelenggara dan seluruh peserta yang hadir. “Terima kasih kepada kampus UC yang telah membuka ruang dialog seperti ini, serta kepada audiens di Surabaya yang hadir dengan suasana yang aman, tenteram, dan penuh penghargaan terhadap perbedaan pandangan. Ruang-ruang diskusi seperti ini penting untuk terus dirawat bersama,” ujar Dandhy.

Sementara itu, Bernardus Khrisma Wibisono, selaku Guru Pendidikan Pancasila sekaligus pendamping Kelas Filsafat AGORA di SMA Santa Maria Surabaya, menilai bahwa kegiatan pemutaran dan diskusi film seperti ini memiliki peran penting dalam pembentukan karakter generasi muda. “Pemutaran dan diskusi film yang reflektif serta kritis seperti ini sangat penting bagi perkembangan kualitas intelektual, karakter, dan kepekaan sosial generasi muda Indonesia terhadap kaum tertindas, khususnya warga asli Papua. Melalui ruang dialog seperti ini, para pelajar dan mahasiswa diajak untuk belajar berpikir terbuka, mendengarkan berbagai perspektif, serta membangun empati terhadap persoalan kemanusiaan,” tutur Khrisma.

Diskusi berlangsung aktif dan interaktif. Para peserta mengajukan pertanyaan, menyampaikan pandangan, serta membagikan refleksi pribadi setelah menyaksikan film tersebut. Suasana diskusi terasa hangat namun tetap kritis, sehingga menciptakan ruang dialog yang penuh makna antara narasumber dan peserta.

Mengikuti kegiatan ini memberikan banyak pembelajaran baru, khususnya dalam memahami keberagaman perspektif dan pentingnya mendengarkan langsung suara masyarakat yang mengalami realitas tersebut. Harapannya, kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan akademik, tetapi juga membuka kesadaran sosial serta menumbuhkan empati terhadap berbagai isu kemanusiaan di Indonesia.

Penulis: Agnes Nathania Widodo (Siswa Kelas X SMA Santa Maria)