Hari Pentakosta, yang dalam bahasa Yunani dikenal sebagai "Pentēkostē" yang berarti "hari kelima puluh", adalah salah satu perayaan paling penting dalam kalender liturgi Katholik. Dirayakan pada hari Minggu ketujuh setelah Paskah, atau tepatnya 50 hari setelah Paskah, dan 10 hari setelah peringatan Kenaikan Yesus Kristus, Pentakosta memperingati turunnya Roh Kudus kepada para rasul dan murid-murid Yesus di Yerusalem.
Menurut kitab Kisah Para Rasul pasal ke-2, pada hari Pentakosta, Roh Kudus turun kepada para rasul, memberikan mereka kemampuan untuk berbicara dalam berbagai bahasa. Keajaiban ini memungkinkan mereka menyebarkan ajaran Kristus kepada orang-orang dari berbagai bangsa dan latar belakang yang sedang berkumpul di Yerusalem saat itu. Peristiwa ini dianggap sebagai pemenuhan janji Yesus yang akan mengirimkan Roh Kudus sebagai penolong bagi umat-Nya.
Pentakosta memiliki makna teologis yang mendalam bagi umat Katholik. John Gill, seorang pastor dan teolog terkenal, menyatakan bahwa melalui pembaptisan Roh Kudus, para rasul memperoleh pemahaman yang lebih besar mengenai misteri Injil dan menjadi lebih memenuhi syarat untuk mengkhotbahkannya kepada orang-orang dari segala bangsa dan bahasa. Ini menandai awal dari misi gereja untuk menyebarkan kabar baik ke seluruh dunia.
Sebelum menjadi hari raya Katholik, Pentakosta adalah sebuah perayaan Yahudi yang dikenal sebagai Shavuot. Shavuot dirayakan sebagai ucapan syukur atas panen gandum dan juga untuk memperingati pemberian Taurat kepada Musa di Gunung Sinai. Perayaan ini menunjukkan hubungan yang erat antara tradisi Yahudi dan Kristen, di mana peristiwa penting dalam iman Kristen seringkali berakar pada tradisi Yahudi.
Hari Pentakosta juga dikenal sebagai hari lahirnya gereja Katholik. Pada hari ini, setelah khotbah Petrus yang berapi-api, sekitar tiga ribu jiwa ditambahkan ke dalam komunitas iman. Peristiwa ini dianggap sebagai pendirian gereja mula-mula, yang menandai dimulainya misi gereja untuk menyebarkan ajaran Kristus ke seluruh dunia
Pentakosta tidak hanya merayakan turunnya Roh Kudus tetapi juga menandai transformasi para rasul menjadi pembawa pesan Injil yang kuat dan berani. Melalui mukjizat ini, pesan Kristus mulai menyebar dengan cepat ke berbagaipenjuru dunia, membentuk dasar bagi pertumbuhan gereja Kathloik yang terus berkembang hingga hari ini. Perayaan Pentakosta mengingatkan umat Kathloik akan pentingnya peran Roh Kudus dalam kehidupan spiritual dan misi gereja.
Hari Pentakosta, yang memperingati turunnya Roh Kudus kepada para rasul dan murid- murid Yesus, bukan hanya peristiwa bersejarah dalam agama Katholik tetapi juga mengandung nilai-nilai yang relevan bagi kita sebagai murid SMA Santa Maria Surabaya. Sebagai bagian dari perayaan Pentakosta, SMA Santa Maria Surabaya menyisipkan doa novena setiap pagi dari sentral untuk memperdalam iman dan kebersamaan kita sebagai komunitas sekolah. Mengaitkan peristiwa Pentakosta dengan nilai-nilai dasar Pendidikan Serviam dapat memberikan kita panduan dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih bermakna dan sesuai dengan semangat Serviam.
Pada hari Pentakosta, Roh Kudus memberikan kemampuan kepada para rasul untuk berbicara dalam berbagai bahasa, memungkinkan mereka untuk menyebarkan ajaran Kristus kepada semua orang. Ini adalah contoh nyata dari cinta dan belas kasih. Sebagai murid, kita diajak untuk mengembangkan sikap kasih dan peduli terhadap sesama, berusaha membantu dan mendukung teman-teman serta lingkungan sekitar kita, mencerminkan cinta Tuhan melalui tindakan nyata.
2. Integritas
Para rasul yang menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta menunjukkan integritas yang tinggi dalam menyampaikan pesan Kristus, meskipun mereka menghadapi tantangan dan risiko. Kita sebagai murid di SMA Santa Maria Surabaya harus meneladani integritas ini dalam kehidupan sehari-hari, berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral dan etika yang kuat, jujur dalam setiap tindakan dan perkataan, serta bertanggung jawab dalam semua tugas yang kita lakukan.
3. Keberanian dan Ketangguhan
Peristiwa Pentakosta juga mengajarkan kita tentang keberanian dan ketangguhan. Para rasul berani berbicara di depan umum dan menyebarkan ajaran Kristus meskipun dihadapkan pada ancaman. Kita sebagai muridharus berani dan tangguh dalammenghadapi tantangan akademis dan non-akademis. Seperti Santa Angela yang tidak pernah menyerah, kita juga harus tekun dan gigih dalam meraih tujuan dan menghadapi setiap kesulitan dengan sikap positif.
4. Persatuan
Turunnya Roh Kudus mempersatukan para rasul dan murid-murid dalam satu tujuan, yaitu menyebarkan Injil. Nilai persatuan ini sangat penting dalam membangun komunitas sekolah yang harmonis. Sebagai murid, kita harus bekerja sama, saling mendukung, dan menghargai perbedaan untuk mencapai tujuan bersama. Persatuan ini memperkuat komunitas sekolah dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
5. Totalitas
Para rasul menunjukkan totalitas dalam melaksanakan misi mereka setelah menerima Roh Kudus. Mereka memberikan diri sepenuhnya dalam pelayanan dan penyebaran ajaran Kristus. Kita harus meneladani kesungguhan ini dengan memberikan yang terbaik dalam setiap aspek kehidupan sekolah, baik dalam belajar, berorganisasi, maupun dalam kegiatan ekstrakurikuler.
6. Pelayanan
Akhirnya, Pentakosta mengajarkan kita tentang pelayanan. Para rasul melayani orang-orang dari berbagai bangsa dengan menyampaikan pesan Kristus. Sebagai murid, kita juga dipanggil untuk melayani tanpa pamrih, menggunakan bakat dan kemampuan kita untuk membantu orang lain dan membawa kebahagiaan kepada sesama, demi kemuliaan Tuhan.
Hari Pentakosta bukan hanya perayaan liturgis tetapi juga sebuah pengingat akan panggilan kita untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai spirit Serviam. Sebagai murid SMA Santa Maria Surabaya, kita diajak untuk menginternalisasi dan menerapkan nilai-nilai cinta dan belaskasih, integritas, keberanian dan ketangguhan, persatuan, totalitas, dan pelayanan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita dapat menjadi pribadi yang tidak hanya unggul dalam akademis tetapi juga bermakna dalam kontribusi sosial dan spiritual.
(Penulis : Johan Sebastian Lie, siswa kelas X-4 SMA Santa Maria Surabaya)
Gambar cover: https://www.katolikku.com