News &
Updates

News Image

Share

Refleksi Jalan Kedukaan – Via Dolorosa
24 Maret 2023

Jalan SalibTradisi menyebutkan bahwa setiap hari setelah wafat Kristus, Bunda Maria mengunjungi rute perjalanan sengsara Puteranya, dari tempat-Nya menerima hukuman mati sampai ke Golgota. St. Hieronimus juga menyebutkan banyaknya peziarah yang mengunjungi tempat-tempat kudus di Yerusalem pada zamannya. Dari sinilah kita mengetahui bahwa sejak awal telah ada tradisi merenungkan sengsara Kristus yang kita kenal sekarang sebagai Jalan Salib.

 

Namun secara lebih meluas, tradisi Jalan Salib berkembang pesat setelah beberapa tempat di Yerusalem dipercayakan kepada ordo Fransiskan di tahun 1342. Setelah itu dikenal beberapa versi Jalan Salib, Seiring dengan perkembangan waktu, banyak Bapa Paus yang menganjurkan Doa Jalan Salib, karena ini merupakan cara doa yang paling mudah untuk menghayati kisah sengsara Yesus dan pengorbanan-Nya di kayu salib. Paus yang menganjurkan Jalan Salib ini adalah Paus Innocentius XI (1686), Innocentius XII (1694), Benediktus XIII (1726), Klemens XII (1731), Benediktus XIV (1742).

 

Melalui kutipan di atas penulis menjadi sangat terinspirasi dan memulai perbincangan dengan Ibu Anastasya Simamora, S.Pd., guru Agama SMA Santa Maria di ruang tata usaha dan mempunyai keinginan untuk mengelar sebuah refleksi jalan kedukaan – Via Dolorosa dalam masa prapaskah tahun 2023. Sembari berbincang kesana kemari, akhirnya kami memutuskan akan menggelar sebuah refleksi jalan kedukaan yang dikenal dengan Jalan Salib.

 

Jalan Salib adalah salah satu bentuk doa atau devosi yang berpusat pada permenungan akan sengsara dan wafat Kristus. Devosi Jalan Salib telah berakar lama dalam gereja Katolik, yang diawali dengan tradisi para peziarah yang mengunjungi Yerusalem. Sejak abad keempat, di zaman kaisar Konstantin, para peziarah telah mempunyai tradisi berdoa merenungkan sengsara Yesus melalui jalan yang sekarang dikenal dengan Via Dolorosa, walaupun pada masa itu belum disebut demikian.

 

Persiapan menjelang “jalan salib” (SanMar/Adri)

 

Ibu Mora akhirnya meminta penulis untuk membuat naskah jalan salib yang nantinya dikemas dalam sebuah visualisasi dengan judul “Perjalanan KedukaanMu” di pendopo kampus Santa Maria Surabaya. Kurang lebih dua minggu penulis membuat naskah dan selalu diingatkan sampai di mana progresnya. Dalam visualisasi ini, di akhir penyaliban akan ditutup dengan sebuah puisi yang dibawakan Frida Ananda Indriani, peserta didik kelas XI Bahasa. Puisi yang berjudul “Golgota” ini mengajak umat, yakni keluarga besar SMA Santa Maria Surabaya merenungkan kembali kisah sengsara Yesus sampai disalibkan di Golgota. 

 

Latihan dilaksanakan setiap Rabu dan Kamis sepulang sekolah. Kegiatannya antara lain reading, blocking, dan latihan gestur. Latihan selalu diawali dengan refleksi dan merenungkan perjalanan kedukaanNya untuk menambah konsentrasi talent saat memerankan setiap adegan dalam drama. Visualisasi ini bukanlah sekedar drama yang ditonton lalu selesai, melainkan bagian dari refleksi untuk merenungkan jalan kedukaan Yesus. Dengan refleksi ini manusia semakin diingatkan agar selalu bertumpu bersama Yesus melalui pastoral diri salah satunya dengan berdevosi jalan salib.

 

Pada Rabu, 15 Maret 2023 di ruang Brecia 1, seluruh panitia yang terlibat mengadakan rapat persiapan refleski “Jalan KedukaanNya” untuk menegaskan kembali maksud dan tujuan diadakannya devosi jalan salib, laporan perlengkapan, serta teknis acara. Kegiatan ini akan diikuti oleh seluruh keluarga SMA Santa Maria Surabaya dan digelar pada Jumat, 24 Maret 2023 pukul 12.00 WIB di pendopo kampus Santa Maria Surabaya.

 

Penulis: Agustinus Sepanca Naryanto, SMA Santa Maria