Surabaya, Kampus Ursulin — Sanmaris, SMA Santa Maria Surabaya mengawali rangkaian Projek Kokurikuler “AMARTA EKOLOGI: Laudate Deum Menuju Ekosistem Lestari” dengan kegiatan literasi bertajuk “Darurat Iklim” yang menghadirkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya. Kegiatan yang berlangsung di aula Kampus Santa Maria Surabaya pada 25 Februari 2026 ini diikuti oleh seluruh siswa kelas X–XI sebagai bentuk komitmen sekolah dalam membangun kesadaran ekologis generasi muda.

Hadir sebagai narasumber, Satiah, S.Sos., Ketua Tim Kerja Penyuluhan Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Masyarakat DLH Kota Surabaya, menyampaikan paparan komprehensif mengenai kondisi darurat iklim yang sedang dihadapi dunia saat ini. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa perubahan iklim merupakan perubahan signifikan suhu global dan pola cuaca dalam jangka panjang yang kini semakin diperparah oleh aktivitas manusia. “Pembakaran bahan bakar fosil, penggundulan hutan, praktik industri, hingga pengelolaan sampah yang tidak terkelola menjadi faktor utama peningkatan emisi gas rumah kaca,” tegas Satiah di hadapan para peserta.

Materi literasi mencakup pemahaman dasar tentang perubahan iklim, penyebab, serta dua strategi utama dalam penanganannya, yakni mitigasi dan adaptasi. Pada aspek mitigasi, siswa diajak memahami pentingnya mengurangi emisi melalui efisiensi energi, penggunaan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, serta reboisasi. Sementara dalam aspek adaptasi, ditekankan perlunya ketahanan infrastruktur, manajemen air, dan pengelolaan energi yang berkelanjutan guna menghadapi cuaca ekstrem.

Tak hanya teori, Satiah juga mengajak siswa melakukan aksi nyata melalui kebiasaan sederhana seperti mematikan lampu yang tidak digunakan, memilah sampah dari sumbernya, tidak membuang sampah ke sungai, serta memilih produk ramah lingkungan. Ia juga memperkenalkan Program Kampung Iklim (ProKlim) sebagai inisiatif nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang mendorong aksi adaptasi dan mitigasi di tingkat masyarakat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari tahapan awal projek AMARTA EKOLOGI, yakni fase Orientasi dan Literasi, sebelum siswa melanjutkan ke tahap aksi, penulisan artikel ilmiah, hingga perancangan permainan edukatif bertema lingkungan. Melalui pendekatan ini, sekolah tidak hanya menumbuhkan penalaran kritis, tetapi juga kepekaan dan tanggung jawab ekologis sebagaimana tercantum dalam dimensi profil lulusan.

Antusiasme siswa terlihat dari berbagai pertanyaan kritis yang diajukan, mulai dari dampak perubahan iklim di Surabaya hingga langkah konkret yang bisa dilakukan generasi muda untuk mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 “Kota Berkelanjutan”, SDG 12 “Konsumsi Bertanggung Jawab”, dan SDG 13 “Penanganan Perubahan Iklim”.
Melalui kegiatan literasi ini, SMA Santa Maria Surabaya menegaskan komitmennya untuk menjadikan pendidikan sebagai ruang pertobatan ekologis, dari data menjadi nyata, dari kebiasaan menjadi gerakan. Darurat iklim bukan lagi sekadar isu global, melainkan panggilan moral bersama untuk bertindak hari ini demi keberlanjutan bumi esok hari.

Penulis: Bernardus Khrisma Wibisono, Guru SMA Santa Maria Surabaya