
Surabaya, Kampus Ursulin-Sanmaris (Jumat, 5 Juni 2026) – Rangkaian perjalanan panjang yang sarat makna ini dimulai sejak pagi buta, saat matahari bahkan belum sepenuhnya menampakkan diri di ufuk timur Kota Surabaya. Tepat pukul 07.00 WIB, suasana di titik pemberangkatan yang dipusatkan di SMPK Angelus Custos Surabaya sudah tampak hidup dan bertenaga. Tiga delegasi terpilih dari SMA Santa Maria Surabaya telah bersiap membaur bersama ratusan calon pemimpin muda lainnya.

Setibanya di lokasi, atmosfer kedisiplinan tingkat tinggi langsung menyergap. Panitia menerapkan proses absensi dan registrasi ulang yang sangat ketat. Mulai dari pemeriksaan kelengkapan administrasi, bekal logistik pribadi, hingga pengecekan kesiapan fisik dasar dilakukan tanpa celah. Hal ini menjadi sinyal awal bagi para peserta bahwa mereka bukan sedang pergi bertamasya, melainkan bersiap memasuki Kawah Candradimuka kepemimpinan.
Ada hal menarik sekaligus unik dalam keberangkatan kali ini yang berhasil memicu adrenalin serta rasa kebersamaan para peserta. Panitia telah bekerja sama dengan pihak TNI untuk menyediakan armada truk militer jenis Jisang sebagai sarana transportasi utama menuju lokasi. Pengalaman naik ke atas bak truk tinggi berpenutup terpal khas tentara ini langsung memecah kecanggungan antarsekolah.
Sepanjang perjalanan berjam-jam menuju dataran tinggi, guncangan jalanan dan deru mesin truk justru menjadi musik latar yang menyenangkan. Alih-alih mengeluh, para peserta saling berpegangan, berbagi camilan, dan mulai melempar tawa. Pengalaman berkendara dengan truk TNI Jisang ini secara instan berhasil menanamkan mental tangguh, filosofi kesederhanaan, dan rasa persaudaraan yang erat di antara para peserta bahkan sebelum mereka menginjakkan kaki di tempat perkemahan.

Aroma tanah basah dan udara sejuk khas pegunungan Trawas langsung menyambut kedatangan rombongan saat truk-truk militer tersebut memasuki gerbang Bumi Perkemahan SKJJ. Kabut tipis yang berarak di sela-sela pohon pinus seolah ikut menyambut kedatangan para calon pemimpin masa depan ini. Namun, sebelum mereka dihadapkan pada materi-materi yang menguras pikiran dan menguji ketahanan fisik, rangkaian acara secara resmi dibuka dengan fondasi yang paling krusial: spiritualitas.
Seluruh peserta berkumpul dengan khidmat untuk merayakan Misa Kudus bersama. Di tengah alam terbuka, di bawah naungan langit Trawas, doa-doa dilambungkan. Melalui perayaan Ekaristi ini, seluruh peserta diajak untuk merendahkan hati, menyerahkan segala dinamika proses belajar mereka ke dalam tangan Tuhan, sekaligus mengucap syukur atas kesempatan berharga yang telah diberikan. Pemimpin yang hebat tidak hanya kuat secara intelektual dan fisik, tetapi juga harus memiliki kedekatan personal dengan Sang Pencipta sebagai kompas moralnya.

Memasuki agenda inti pasca-Misa, atmosfer langsung berubah menjadi intens. Para perwakilan siswa langsung dihadapkan pada sesi materi kepemimpinan yang padat, berbobot, namun dikemas secara interaktif. Fokus utama pada hari pertama ini sengaja ditekankan pada konsep dasar yang paling fundamental: kepemimpinan diri (self-leadership).
"Bagaimana mungkin seseorang bisa memimpin orang lain, menggerakkan sebuah organisasi besar, atau membawa perubahan di sekolah, jika ia belum mampu memimpin dan menaklukkan dirinya sendiri?"
Pertanyaan retoris dari pemateri ini sukses memantik diskusi panjang. Para siswa digugah kesadarannya mengenai pentingnya kedisiplinan pribadi yang dimulai dari hal-hal kecil, menjaga integritas antara perkataan dan perbuatan, serta seni manajemen waktu yang ketat.

Tidak berhenti di situ, intensitas pelatihan bergerak naik ketika materi berkembang ke arah dinamika kelompok dan kerja sama tim (teamwork). Di sinilah ego para siswa benar-benar diuji. Panitia sengaja memecah formasi asal sekolah dan melebur para siswa ke dalam kelompok-kelompok baru yang acak. Mereka dipaksa keluar dari zona nyaman, menurunkan ego sektoral, dan belajar mendengarkan isi kepala orang lain yang baru dikenal beberapa jam lalu.
Melalui berbagai simulasi problem-solving yang rumit, mereka belajar bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu menjadi yang paling dominan, melainkan yang mampu melihat potensi terbaik dari setiap anggota timnya. Setelah melewati rangkaian simulasi yang menguras energi dan memeras keringat hingga sore menjelang malam, hari pertama pun ditutup. Di bawah temaram lampu perkemahan dan pelukan udara Trawas yang kian menusuk tulang, para peserta dipersilakan untuk kembali ke tenda-tenda mereka. Di dalam ruang-ruang kain itulah, obrolan-obrolan hangat dari hati ke hati terjalin, memperkuat ikatan persaudaraan sebelum mereka terlelap untuk mengumpulkan stamina.

Ketika fajar hari kedua menyingsing, suasana perkemahan dimulai dengan aktivitas yang kontras dari hari sebelumnya. Di tengah kepungan kabut pagi SKJJ yang tebal dan dingin, seluruh peserta berkumpul di lapangan tengah bukan untuk berteriak lantang, melainkan untuk masuk ke dalam keheningan yang dalam melalui sesi meditasi bersama.
Agenda ini dirancang khusus sebagai sarana detoksifikasi mental dan refleksi diri. Di bawah bimbingan instruktur, para siswa diajak untuk menutup mata, mengatur napas, menenangkan riuhnya pikiran, dan merenungkan kembali setiap proses, kesalahan, serta pelajaran yang telah mereka lewati di hari pertama. Meditasi pagi ini memberikan keseimbangan spiritual dan mental yang sangat krusial. Seorang pemimpin tidak boleh hanya bergerak cepat dan reaktif, ia juga harus memiliki ruang keheningan di dalam dirinya agar mampu mengambil keputusan dengan jernih, bijaksana, dan kepala dingin di tengah situasi sekacau apa pun.

Setelah pikiran dan jiwa kembali segar, para peserta kemudian menerima sesi materi terakhir yang bersifat konklusif dan taktis. Jika hari pertama diisi dengan teori dan pembentukan mental, maka sesi penutup ini adalah tentang implementasi.
Para pemateri merangkum seluruh bekal teori, dinamika kelompok, dan pengalaman praktik yang telah diberikan sejak hari pertama. Lebih dari itu, para siswa dibekali dengan arahan strategis dan penyusunan action plan (rencana aksi). Mereka ditantang untuk merumuskan langkah konkret mengenai bagaimana mengimplementasikan ilmu kepemimpinan yang mahal ini di lingkungan sekolah masing-masing, khususnya dalam membawa perubahan positif bagi OSIS dan seluruh warga sekolah setelah perkemahan ini usai.

Rangkaian LDKS BKS Kevikepan Surabaya ini akhirnya ditutup bukan dengan rasa lelah, melainkan dengan binar mata penuh optimisme. Tiga delegasi SMA Santa Maria Surabaya, bersama puluhan remaja lainnya, pulang dengan pundak yang lebih tegap dan siap menjadi garam serta terang bagi sesama. Perjalanan pulang pun ditempuh dengan rute yang sama. Para delegasi kembali menaiki truk TNI Jisang dari SKJJ menuju titik akhir di SMPK Angelus Custos Surabaya.
Penulis: Rayhan Emerich Andriano (siswa kelas XI SMA Santa Maria)