
Yogyakarta, Kampus Ursulin — Sanmaris, komitmen SMA Santa Maria Surabaya untuk terus menghadirkan pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam berbagai forum inspiratif di tingkat nasional. Pada Rabu, 1 Juli 2026, Bernardus Khrisma Wibisono, Guru Pendidikan Pancasila dan Sosiologi sekaligus pecinta seni budaya Nusantara, mengikuti rangkaian program “MTN IkonInspirasi × Archivepelago: Membaca Indonesia” yang diselenggarakan di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh para peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, penikmat seni dan film, hingga pegiat seni dan sinematografi.

Kegiatan pertama berupa Exhibition Tour (tur pameran) bersama seniman dan tim kurator yang berlangsung di Galeri Bulaksumur, GIK UGM. Dipandu langsung oleh sineas sekaligus budayawan Garin Nugroho bersama tim kurator, peserta diajak menelusuri pameran secara mendalam untuk memahami proses kreatif di balik kurasi arsip, karya seni, dan narasi kebangsaan. Tur ini tidak hanya menghadirkan pengalaman menikmati karya visual, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai bagaimana arsip dapat menjadi medium penting dalam membaca perjalanan Indonesia melalui perspektif seni, sejarah, dan budaya.

Melalui diskusi yang berlangsung selama tur, peserta memperoleh pemahaman bahwa arsip bukan sekadar dokumentasi masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang terus hidup dan dapat diolah menjadi inspirasi bagi lahirnya berbagai gagasan kreatif di masa kini. Perspektif tersebut menjadi bekal berharga dalam memperkaya pendekatan pembelajaran yang kontekstual sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya di kalangan generasi muda.

Pada sore harinya, para peserta menghadiri Diskusi Garin Workshop bertajuk "Efisiensi Kreatif: Strategi Produksi Film & Alih Wahana Warisan Budaya di Era Kontemporer" yang diselenggarakan di CollabHub, GIK UGM. Diskusi menghadirkan para praktisi terkemuka dalam ekosistem seni dan film Indonesia, yakni Garin Nugroho, Jompet Kuswidananto, Ryan Ajayanto, dan Septina Rosalina Layan, dengan moderator Dr. Dyna Herlina S.

Forum ini mengangkat pentingnya warisan budaya sebagai sumber inspirasi yang tidak pernah habis untuk melahirkan karya-karya baru melalui proses alih wahana lintas medium, mulai dari film, seni pertunjukan, hingga berbagai bentuk ekspresi kreatif lainnya. Para narasumber juga membagikan pengalaman mengenai strategi produksi yang efektif, kolaborasi lintas disiplin, serta pentingnya membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan agar karya berbasis budaya mampu memberikan dampak sosial sekaligus memiliki daya siyang di tingkat nasional maupun global.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. “Adakah hal yang paling rumit yang dialami dalam produksi seni kontemporer di Indonesia? Bagaimana menghadapinya?" tanya salah satu peserta.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Garin Nugroho menjelaskan bahwa tidak ada rumus baku ataupun strategi tunggal untuk menghadapi kompleksitas dalam proses berkarya. Menurutnya, setiap tantangan justru membutuhkan pendekatan yang berbeda sesuai dengan konteks dan kompetensi para pelaku kreatif yang terlibat.
“Tidak ada pakem rumus atau strategi tertentu. Prinsip saya adalah 'nasi campur'; apa pun persoalan yang muncul dalam proses produksi, para maestro atau seniman terbaik yang kami rekrut akan menemukan penyelesaiannya masing-masing sesuai dengan bidang dan keahliannya. Justru dari keberagaman perspektif itulah lahir karya-karya yang kuat,” ujar Garin.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan sebuah karya seni tidak hanya ditentukan oleh perencanaan yang matang, tetapi juga oleh kolaborasi, kepercayaan kepada kompetensi setiap anggota tim, serta kemampuan beradaptasi dalam menghadapi dinamika proses kreatif.
Keikutsertaan SMA Santa Maria Surabaya dalam rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah untuk terus memperluas jejaring pembelajaran sekaligus menghadirkan wawasan baru yang dapat diintegrasikan ke dalam proses pendidikan. Nilai-nilai kebangsaan, kreativitas, apresiasi terhadap seni budaya, serta kemampuan berpikir kritis merupakan kompetensi yang semakin relevan dalam membentuk profil peserta didik yang adaptif dan berkarakter.

Pengalaman belajar langsung bersama para tokoh seni dan budaya nasional diharapkan menjadi inspirasi bagi pengembangan pembelajaran lintas disiplin di SMA Santa Maria Surabaya. Melalui semangat Serviam, sekolah terus mendorong para pendidik untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat yang mampu menghadirkan pendidikan bermakna, berakar pada budaya bangsa, sekaligus responsif terhadap dinamika dunia kreatif dan inovasi masa depan.
Penulis: Tim Humas SMA Santa Maria Surabaya