Surabaya, Kampus Ursulin — Sanmaris, peserta didik SMA Santa Maria Surabaya mengikuti Seminar Nasional dan Pameran Praktik Baik “Pendidikan Ekologi dan Etika Kemanusiaan: Suatu Keniscayaan bagi Perubahan Budaya Tata Kelola Kawasan” yang diselenggarakan oleh Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI), Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS).

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 19 Agustus 2026, pukul 08.30–16.30 WIB tersebut bertempat di Ruang Teater Barat, Kampus Pakuwon City, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Seminar ini menjadi ruang pembelajaran bagi peserta untuk memperluas wawasan mengenai hubungan antara pendidikan, ekologi, etika kemanusiaan, serta tata kelola kehidupan bersama.

Seminar nasional menghadirkan sejumlah narasumber dalam dua sesi pleno. Pleno I mengangkat tema “Etika Kemanusiaan dalam Tata Kelola Kawasan” dengan menghadirkan Prof. Dr. F. Magnis-Suseno, SJ. (AIPI), Prof. Damayanti Buchori, Ph.D. (AIPI/IPB), dan Airlangga Pribadi Kusman, Ph.D. (Universitas Airlangga).

Sementara itu, Sesi Pleno II membahas tema “Pendidikan Warga sebagai Ko-Kreator Demokrasi” dengan narasumber Baharuddin (Qaryah Thayyibah), Dr. Ferry Sutrisna Wijaya (Eco Camp), dan Dr. Anastasia Jessica, M.Phil. (UKWMS). Pada sesi ini, Michael Hugo Gaynell Poluakan, peserta didik kelas XI SMA Santa Maria Surabaya, turut berpartisipasi aktif dengan mengajukan pertanyaan kritis mengenai masa depan demokrasi di Indonesia dan peran generasi muda sebagai warga negara.



"Apakah sistem demokrasi masih menjadi sistem yang paling cocok untuk diterapkan di Indonesia saat ini, jika masih ada ketimpangan kualitas pendidikan yang dapat membuat masyarakat cenderung mudah dipengaruhi melalui cara-cara populis? Lalu, bagaimana generasi Z seharusnya menanggapi fenomena pengeroposan demokrasi yang terjadi saat ini? Apakah konsep warga negara sebagai ko-kreator dalam demokrasi sungguh dapat diterapkan secara inklusif tanpa bias kelas sosial dan ekonomi?" tanya Hugo.

Pertanyaan tersebut mendapat tanggapan antusias dari Dr. Ferry Sutrisna Wijaya dari Eco Camp. Dalam jawabannya, ia menekankan pentingnya keberanian warga untuk tidak sekadar menjadi pihak yang menerima atau mematuhi keputusan pihak lain. Ia kemudian menegaskan pentingnya pendidikan yang mendorong setiap individu untuk mampu menyatakan sikap dan bersuara, termasuk ketika berhadapan dengan berbagai bentuk tekanan dari lingkungan sosial.

“Kita tidak bisa lagi membangun sikap yang hanya comply, hanya menurut, terus taat. Di rumah sudah disuruh comply dengan orang tua, sekolah dengan guru. Kampus di sini apakah juga hanya comply, yang paling penting di kampus ini pokoknya menurut sama dosen. Dengan pemerintah, begitu juga comply. Kita harus belajar bagaimana kita bisa menyatakan sikap, kita merasa harus bicara dan melakukan sesuatu. Maka, di mana-mana, pendidikan untuk demokrasi itu semakin penting,” ujar Romo Ferry.

Dialog tersebut menjadi salah satu momen reflektif dalam seminar karena mempertemukan perspektif peserta didik dengan pemikiran praktisi pendidikan dan demokrasi. Pertanyaan Michael menunjukkan bahwa peserta didik tidak hanya hadir sebagai penerima materi, tetapi juga mampu terlibat dalam diskusi publik dengan mengangkat persoalan ketimpangan, literasi demokrasi, politik populisme, serta inklusivitas partisipasi warga negara.

Selain sesi pleno, peserta juga mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, antara lain presentasi paralel oleh dosen dan mahasiswa UKWMS serta pameran dan talk show praktik baik pendidikan ekologi. Pameran tersebut menampilkan praktik-praktik pendidikan ekologi yang dikembangkan oleh sejumlah komunitas dan sekolah berwawasan lingkungan, seperti Qaryah Thayyibah, Pesantren Pabelan, Sekolah Santa Maria, Eco Camp, dan Centrum Laudato Si'.


Salah satu rangkaian yang turut memperkaya kegiatan tersebut adalah presentasi praktik baik dari perwakilan Kampus Santa Maria Sidoarjo, Charles Meka Podhi Gholo, S.Pd. Bertempat di Lobby Maria, Fakultas Filsafat UKWMS, Charles mempresentasikan praktik baik bertajuk “Menumbuhkan Manusia, Merawat Bumi”. Presentasi ini menjadi bagian penting dalam memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan kesadaran manusia sekaligus membangun kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Melalui praktik baik tersebut, pendidikan ekologi ditempatkan bukan sekadar sebagai upaya meningkatkan pengetahuan mengenai lingkungan, melainkan sebagai proses pembentukan manusia yang memiliki kesadaran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kehidupan bersama. Gagasan “Menumbuhkan Manusia, Merawat Bumi” juga memperlihatkan keterkaitan erat antara pembentukan karakter peserta didik dengan upaya menjaga bumi sebagai ruang hidup bersama.


Keikutsertaan peserta didik SMA Santa Maria Surabaya dalam kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempertemukan pembelajaran di sekolah dengan berbagai praktik nyata di masyarakat. Persoalan ekologis tidak hanya dipahami sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan erat dengan tanggung jawab manusia, budaya, pendidikan, kebijakan publik, dan kehidupan demokratis.
Penulis: Bernardus Khrisma Wibisono, Guru SMA Santa Maria Surabaya