News &
Updates

News Image

Share

Mandala Noesantara: Menyatukan Keberagaman dalam Satu Tekad dan Tujuan
27 Agustus 2026

Surabaya, Kampus Ursulin — Semangat kemerdekaan kembali terasa di SMA Santa Maria Surabaya melalui kegiatan Mandala Noesantara yang berlangsung selama tiga hari, Selasa–Jumat, 12–14 Agustus 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh peserta didik kelas X hingga XII sebagai bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Meskipun setiap tahun perayaan kemerdekaan dikemas dengan nama dan makna yang berbeda, tujuan utamanya tetap sama, yaitu memperingati kemerdekaan sekaligus membangun semangat persatuan dan kebersamaan antarpeserta didik.

Nama Mandala Noesantara memiliki makna yang menjadi dasar seluruh rangkaian kegiatan. Mandala dimaknai sebagai lingkaran atau kesatuan yang menyatukan keberagaman, sedangkan Nusantara merujuk pada Indonesia. Dengan demikian, Mandala Noesantara menggambarkan kesatuan Indonesia yang harmonis, disatukan dalam satu tekad dan tujuan. Makna tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang menggabungkan semangat kompetisi, kerja sama, kreativitas, budaya, dan refleksi kemerdekaan.

Semarak Perlombaan dan Bazaar di Hari Pertama

Rangkaian Mandala Noesantara diawali pada Selasa, 12 Agustus 2026. Setelah doa pagi dan jam wali kelas, peserta didik bergerak menuju Lapangan Tumapel untuk mengikuti berbagai perlombaan dan bazar.

Suasana Lapangan Tumapel dipenuhi semangat kompetisi antarkelas. Berbagai perlombaan seperti Awas Tibo! atau nyunggi tempeh, Langkah Kemerdekaan atau bakiak, Tarik Mania, Bola Beracun, KGN (Kelereng Goyang Nusantara), Lilin Goyang, Bocor Berjamaah, dan Bola Air berlangsung meriah. Setiap kelas berusaha memberikan kemampuan terbaiknya. Sorakan dan dukungan dari teman-teman semakin menambah semarak perlombaan, terutama ketika pertandingan tarik tambang berlangsung dengan persaingan yang sengit.



 

Selain perlombaan, kegiatan juga dimeriahkan dengan bazar antarkelas. Setiap stan menghadirkan berbagai makanan, mulai dari tempe mendoan, lak-lak dan lumpia Sanur, klepon dan ote-ote, papeda gulung dan petis, pempek, hingga cilok dan cireng. Beragamnya makanan yang ditawarkan membuat suasana bazar semakin ramai. Di balik kegiatan berjualan ini, peserta didik juga belajar untuk bekerja sama, membagi tugas, melayanan pembeli, serta bertanggung jawab terhadap stan masing-masing.

Perlombaan dan bazar menjadi pengalaman yang mempertemukan peserta didik dari berbagai kelas dalam suasana yang kompetitif sekaligus menyenangkan. Meskipun setiap kelas berusaha menjadi yang terbaik, kebersamaan tetap menjadi bagian penting dalam keseluruhan kegiatan.

Belajar dan Bekerja Sama di Hari Kedua

Kamis, 13 Agustus 2026 menjadi hari kedua pelaksanaan Mandala Noesantara. Kegiatan diawali dengan talkshow yang menghadirkan tiga narasumber, yaitu Ferdinand Michael, Fernando Michael, dan Suryanto. Ketiganya memiliki latar belakang yang berkaitan dengan bidang ekonomi.

Talkshow membahas berbagai topik, mulai dari perubahan dunia dan pasar, peluang, mindset, hingga future vision. Peserta didik tidak hanya mendengarkan pemaparan dari narasumber, tetapi juga diberikan kesempatan untuk berinteraksi melalui sesi tanya jawab. Kegiatan tersebut memberikan wawasan kepada peserta didik mengenai perubahan dan peluang yang dapat dihadapi di masa depan.

Setelah talkshow, peserta didik mengikuti Pos Games yang terdiri atas enam pos. Setiap kelas mengirimkan peserta sesuai dengan ketentuan yang telah diberikan oleh penjaga kelasnya masing-masing. Dalam setiap pos, peserta dihadapkan pada kasus atau permasalahan yang harus dipecahkan bersama.

Kegiatan ini tidak hanya menguji kemampuan berpikir, tetapi juga mengajarkan pentingnya komunikasi dan kerja sama. Setiap anggota kelas memiliki peran dalam mencari solusi sehingga keberhasilan kelompok tidak hanya bergantung pada satu orang. Semangat tersebut menjadi salah satu bentuk nyata dari makna Mandala Noesantara, yaitu keberagaman yang disatukan untuk mencapai satu tujuan.

 

Pada hari yang sama, peserta bazar yang diwakili oleh dua orang dari setiap kelas mengikuti kegiatan khusus di Ruang Romana. Mereka melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan bazar yang telah berlangsung. Evaluasi tersebut membahas tiga hal yang paling berhasil, tiga masalah terbesar, penyebab masalah, hal baru yang dipelajari, serta solusi apabila bazar kembali diadakan.

Setelah melakukan evaluasi, peserta menyusun business plan dengan membayangkan bahwa bazar akan kembali dilaksanakan pada bulan berikutnya. Setiap kelompok diminta menentukan produk baru, strategi promosi, cara menarik pelanggan, serta estimasi keuntungan. Business plan kemudian dipresentasikan dalam enam ronde di hadapan para juri. Para juri memberikan "investasi" berupa uang mainan atau stiker kepada ide bisnis yang dianggap paling menarik.

Melalui kegiatan tersebut, peserta didik tidak hanya mendapatkan pengalaman berwirausaha, tetapi juga belajar mengevaluasi pengalaman, menemukan masalah, menyusun strategi, dan mengembangkan ide bersama.

Puncak Mandala Noesantara: Refleksi Kemerdekaan

Jumat, 14 Agustus 2026 menjadi hari terakhir sekaligus puncak kegiatan Mandala Noesantara. Pagi hari diawali dengan lomba menghias kelas. Setiap kelas telah mendapatkan ketentuan daerah yang menjadi dasar dekorasi. Peserta didik kemudian bekerja sama untuk mengubah ruang kelas mereka sesuai dengan kreativitas masing-masing.

Setelah penilaian dekorasi kelas, seluruh peserta didik bergerak menuju Aula Lantai 4 untuk mengikuti rangkaian puncak acara. Kegiatan diawali dengan parade. Seorang pembawa bendera berjalan menuju panggung diiringi enam penari yang terbagi menjadi tiga penari di bagian depan dan tiga penari di bagian belakang. Mereka bergerak dari bagian belakang menuju depan panggung dengan iringan lagu Tanah Airku. Sesampainya di panggung, pembawa bendera kemudian menancapkan bendera sebagai simbol semangat kebangsaan.

Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza dan Serviam. Setelah itu, peserta didik disuguhkan drama musikal "Lagu Jiwa yang Belum Merdeka."

Drama tersebut menggambarkan keadaan Indonesia dari sisi masyarakat yang masih menghadapi berbagai persoalan. Kisah yang ditampilkan mengangkat isu kemiskinan, kelaparan, pengangguran, dan ketidakadilan. Melalui tokoh-tokohnya, penonton diajak untuk melihat bahwa makna kemerdekaan tidak hanya terbatas pada terbebasnya bangsa dari penjajahan, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang masih membutuhkan perubahan.

Suasana drama kemudian bergerak dari kesedihan menuju harapan. Tokoh Nenek Pertiwi menggambarkan sosok Ibu Pertiwi yang menyaksikan berbagai persoalan yang dialami anak-anak bangsanya. Dari situ muncul kesadaran bahwa keadaan tidak dapat terus dibiarkan. Perubahan membutuhkan keberanian, kepedulian, dan persatuan.

Pesan tersebut kemudian diteruskan melalui pembacaan puisi "Menjemput Fajar Pertiwi." Puisi ini menggambarkan semangat untuk bangkit dari berbagai persoalan dan menumbuhkan kembali persatuan. Generasi muda diajak untuk tidak hanya melihat permasalahan bangsa, tetapi juga mengambil bagian dalam menciptakan perubahan.

Setelah puisi, enam penari menampilkan Tari Mandala dengan dominasi unsur Tari Bali. Mandala yang berarti lingkaran atau kesatuan menjadi simbol yang menyatukan keberagaman. Gerakan para penari yang dilakukan secara bersama menggambarkan keberagaman yang dapat berjalan harmonis ketika disatukan dalam satu tujuan.

Sebagai penutup rangkaian refleksi, tiga guru putri membawakan Rayuan Pulau Kelapa dalam aransemen musik keroncong. Lagu tersebut menjadi ungkapan syukur sekaligus rasa cinta terhadap Tanah Air. Setelah penonton diajak melihat berbagai persoalan dan harapan untuk perubahan, penampilan ini membawa suasana menuju rasa bangga dan syukur atas keindahan Indonesia.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan awarding bagi para pemenang berbagai perlombaan yang telah dilaksanakan selama Mandala Noesantara. Tepuk tangan dan sorak-sorai memenuhi aula ketika para pemenang menerima penghargaan. Setelah seluruh rangkaian selesai, kegiatan ditutup dengan ucapan terima kasih dan doa sebelum peserta didik kembali ke kelas masing-masing dan pulang.

Bersatu dalam Satu Tekad

Selama tiga hari, Mandala Noesantara menghadirkan berbagai kegiatan yang tidak hanya bertujuan untuk memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Perlombaan mengajarkan sportivitas, bazar memberikan pengalaman bekerja sama dan berwirausaha, talkshow membuka wawasan, Pos Games melatih kemampuan memecahkan masalah, sementara rangkaian pertunjukan seni mengajak peserta didik untuk merefleksikan kembali arti kemerdekaan.

Pada akhirnya, seluruh rangkaian tersebut kembali kepada makna Mandala Noesantara, yaitu kesatuan Indonesia yang harmonis, dengan keberagaman yang disatukan dalam satu tekad dan tujuan. Perbedaan kemampuan, karakter, budaya, dan gagasan tidak menjadi penghalang untuk bekerja bersama, melainkan menjadi kekuatan ketika ditempatkan dalam satu lingkar kebersamaan.

Melalui Mandala Noesantara, diharapkan semangat persatuan tidak berhenti ketika kegiatan berakhir. Pengalaman selama tiga hari menjadi pengingat bagi seluruh peserta didik bahwa Indonesia dibangun dari keberagaman yang membutuhkan kerja sama, kepedulian, dan tekad bersama. Dengan semangat tersebut, rangkaian Mandala Noesantara berakhir dalam suasana penuh kebersamaan, kebanggaan, dan harapan untuk terus menjaga persatuan Indonesia.

Penulis: Clive Jeremiah Christhie, Pengurus OSIS SMA Santa Maria Surabaya