News &
Updates

News Image

Share

Kegiatan Live In Profesi Kelas XII, Bukan Sekedar Mengenal Profesi
16 Januari 2025

Surabaya, Kampus Ursulin. Menurut tujuan dari sekolah, live in profesi adalah kegiatan untuk meyakinkan diri akan cita-cita yang dipilih. Namun bagi saya pribadi, kegiatan live in profesi lebih mengajarkan nilai kehidupan lain daripada mengenai profesi. Kegiatan ini merupakan satu kegiatan yang paling saya cemaskan saat kelas 12, setidaknya pada hampir 1 semester ini. Kegiatan live in yang saya rasakan merupakan kegiatan yang penuh pembelajaran bagi pribadi saya, karena dalam kegiatan ini saya benar-benar keluar dari zona nyaman saya. Sebelum mengurai pengalaman pada saat live in, disini akan saya ceritakan awal mula mendapatkan tempat live in, karena pengalaman ini yang paling meninggalkan kesan pembelajaran bagi saya sendiri.

Salah satu hal yang membuat saya cemas adalah karena kelompok live in saya benar-benar teman-teman yang saya belum familiar. Hal tersebut cukup membuat saya merasa canggung dan cemas. Lalu hal yang kedua, adalah mengenai lokasi. Kami sekelompok lumayan susah mencari restoran atau kafe yang mau mengizinkan kegiatan seperti ini dijalankan atau yang cocok untuk dijalankan. Saya sendiri juga mencoba berinisiatif, saya ingin setidaknya melakukan sesuatu untuk kelompok saya sendiri. Dan dalam pengalaman ini, baru kali ini saya mencoba berani berinisiatif menghubungi tempat-tempat untuk live in tanpa melalui perantara kenalan. 

Satu ditolak dan dua tidak dihiraukan. Akhirnya berhasil mendapat tempat yang keempat, yaitu di Ottimmo Internasional. Sepanjang mencari dan menghubungi tempat-tempat, perasaan yang dominan saya rasakan adalah kecemasan dan malu. Tetapi disaat bersamaan, saya kagum terhadap diri saya sendiri.

Hari pertama, Kami diajak ke dalam culinary kitchen. Di sana, para chef dan murid melakukan demonstrasi terlebih dahulu sebelum memasak. Saat itu materinya adalah membuat mie. Setelah mendokumentasikan dan berdiri mendengarkan, kami sekelompok live in diminta keluar sebentar karena mahasiswa hendak mempersiapkan posisi untuk praktek. Lalu kami dipanggil kembali masuk, dan disana kami diajak untuk membuat omelette.

Ottimmo sangat baik mengizinkan kami untuk menggunakan bahan-bahannya. Hasil buatan kami juga bisa dikonsumsi. Pengalaman yang menarik dari hari ini adalah saat praktek. Tampaknya saat praktek saya sangat tegang dan cemas, sampai-sampai saya kesusahan saat proses memasak telurnya. Bahkan sepertinya saya menaruh garam agak kebanyakan. Lalu hari ini saya membuat kesalahan, yaitu datang terlambat karena lalai memperhatikan waktu.

Proses membuat kue di OTTIMO

Sepanjang hari pertama, saya merasa beberapa kesulitan karena rasa tegang dan cemas. Dalam kelompok live in ini benar-benar tidak ada teman yang dekat membuat saya cemas, alhasil saya relatif merasa tegang. Apalagi memang pada dasarnya saya sendiri pribadi yang tidak banyak bicara (atau bahkan tidak bicara sama sekali). Dari kesulitan ini, saya belajar mengenai nilai keberanian dalam core values Serviam. Meskipun di dalam sana saya memang diam dan tegang, saya mencoba untuk tidak terlalu terikat pada rasa malu dan cemas yang saya rasakan. Terkadang, di dalam sana saya mencoba berjalan-jalan sendiri mengamati dan tidak terus menerus mengekori, atau terlalu terpaku pada kelompok. Saya ingin belajar menikmati dan tidak terlarut pada perasaan negatif.

Hari kedua, kami beraktivitas di dalam pastry kitchen. Jika di culinary kitchen dilakukan demonstrasi terlebih dahulu, pastry kitchen langsung melakukan praktek. Kali ini, kami langsung diajak membuat chocolate chip cookies. Semua bahan sudah disiapkan sesuai takaran, sehingga kami hanya menjalankan sesuai instruksi chef yang mengajar. Saya lumayan senang dalam kegiatan ini, karena saya memang suka membuat kue. Hal yang mengejutkan adalah bahan-bahan yang digunakan adalah bahan yang lumayan premium. Mengingat Ottimmo sama sekali tidak memungut biaya, saya merasa terenyuh. Sesudah kue selesai dibuat, kami juga boleh membawa pulang dan memakannya. Yang berkesan dari hari ini adalah, saya sempat dipuji oleh chef-nya yang mengatakan kue-kue yang saya bentuk lumayan rapi, meskipun baru kali pertama itu saya membuat chocolate chip cookies.

Di hari kedua saya merasakan kesulitan yang serupa dengan hari pertama, yaitu rasa tegang dan cemas. Karena rasa tegang dan kecemasan tidak secara instan dapat saya singkirkan hanya dalam satu hari. Saya perlu membiasakan dan belajar untuk berani tanpa berpikir terlalu banyak. Sehingga hari kedua ini, saya belajar tentang nilai keberanian, kesungguhan, dan integritas. Karena kali ini saya belajar untuk bersungguh-sungguh bertanggung jawab untuk tidak datang terlambat yang kedua kalinya lagi.

Hari ketiga, kami diajak praktek membuat kopi. Sebelumnya, kami diperkenalkan ke beberapa jenis kopi dan cara mengoperasikan alatnya. Kami juga diberikan beberapa jenis kopi untuk dicicipi. Saya pribadi tidak begitu suka kopi, tetapi mau mencoba karena penasaran. Lalu kami diajak untuk masing-masing membuat kopi menggunakan alat tersebut. Diluar dugaan saya, ternyata sulit juga menggunakan alat tersebut. Bahkan saya sendiri berkali-kali melakukan hal-hal memalukan seperti tidak sengaja menumpahkan bubuk kopi ke lantai, dan memegang bagian alat yang panas. Tetapi pengajarnya dengan sabar tetap mengarahkan saya. Setelah praktek, kami diajak lagi mencicipi beberapa jenis kopi yang rasanya lebih aneh-aneh lagi. Bahkan semakin lama, saya merasa kafein kopinya sudah berefek dalam diri saya. Padahal hanya minum 3 setengah gelas yang sangat kecil. 

Di hari ketiga sepertinya rasa cemas saya mulai naik lagi, sehingga menjadi kesulitan dalam hari ini. Pada akhirnya saya kembali belajar untuk mengasah nilai keberanian. Saya belajar, kecemasan membatasi kemampuan dan batin. Sehingga perlu saya kendalikan. Meskipun terlihat pembelajaran nilai serviam yang paling mencolok adalah keberanian, tetapi saya juga mempelajari nilai cinta dan belas kasih, terutama terhadap pihak Ottimmo yang sudah dengan rendah hati dan sabar mengizinkan kami untuk menjalankan kegiatan live in dengan lancar tanpa memungut biaya. Orang yang bersangkutan sangat sabar menanggapi permintaan dan pertanyaan saya. Bahkan membantu membuatkan jadwal dan rangkaian kegiatan live in kami. Dari kegiatan ini, saya senang dapat mengenal dan berinteraksi dengan orang-orang baik.Selama kegiatan, memang, saya mendapatkan pembelajaran tentang gambaran cita-cita saya. Namun, pembelajaran yang justru lebih berkesan (atau lebih saya pelajari) adalah mengenai nilai hidupnya. Pada live in ini saya justru lebih mempelajari, terkadang ada saatnya saya harus berani “membuang” sesuatu yang saya sebut harga diri untuk mendapatkan sebuah hasil, terutama pada pengalaman mencari lokasi live in tanpa kenalan sama sekali. Secara keseluruhan, Live in profesi benar-benar memberikan kesan yang dalam, karena dalam kegiatan ini saya banyak keluar dari zona nyaman saya. Warisan Santa Angela yang relevan dengan pengalaman milik saya adalah Warisan terakhir Santa Angela yang ke 9-11; “Percayalah akan hal ini:, Jangan ragu-ragu, Tetapi milikilah iman yang teguh bahwa demikianlah adanya.”

Penulis: Alina Felicia Wijaya Kusuma – Kelas XII 5, 3