Surabaya, Kampus Ursulin. Sanmaris, Seminar pelajar ini merupakan kegiatan rohani dan edukatif sekaligus perayaan Natal bersama yang diikuti oleh pelajar dari berbagai sekolah, bertempat di Graha Kartini Ballroom, Gresik. Seminar ini menghadirkan Ps. Toninardi Wijono sebagai pembicara utama serta pendamping kelompok diskusi. Tujuannya adalah membekali pelajar agar mampu menghadapi tantangan remaja di era digital tanpa kehilangan hubungan dengan Tuhan, keluarga, dan tanggung jawab hidup. Kegiatan berlangsung dalam dua sesi yang diisi dengan ice breaker, pujian dan penyembahan, penyampaian firman Tuhan dari Lukas 15:11–19, diskusi kelompok, serta pelayanan doa dan altar call. Melalui rangkaian ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan rohani, tetapi juga mengalami pemulihan mental dan spiritual.

Sesi 1: Membangun Suasana dan Memuji Tuhan
Acara diawali dengan open gate dan ice breaker agar para peserta tidak merasa tegang dan dapat menikmati suasana. Peserta diajak bermain permainan sederhana namun seru, yaitu "Siapa Cepat Dia Dapat". Sebuah botol diletakkan di tengah, sementara dua orang atau lebih berhadapan sambil mengikuti gerakan “kepala–pundak–lutut–dor”. Saat aba-aba “dor”, peserta harus secepat mungkin mengambil botol tersebut.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan doa pembuka dan Praise & Worship oleh Next Generation Worshiper. Lagu-lagu pujian seperti Gloria, Ajaib Kau Tuhan, Sejuta Rasa, Terhubung, dan Goodness of God dinyanyikan dengan penuh penghayatan, membawa peserta masuk ke dalam suasana penyembahan yang khusyuk.
Firman Tuhan: Anak yang Hilang dan Realitas Remaja Masa Kini
Firman Tuhan disampaikan oleh Ps. Toninardi Wijono yang mengangkat tema dari Lukas 15:11–15 (TB 2) tentang Perumpamaan Anak yang Hilang. Dalam penyampaiannya, Ps. Toni menegaskan bahwa kisah tersebut sangat relevan dengan kehidupan remaja dan anak muda masa kini. Beliau menjelaskan bahwa sikap anak yang meminta warisan sebelum orang tuanya meninggal mencerminkan perilaku anak muda yang menganggap uang dan kebebasan sebagai sumber kebahagiaan utama. Banyak anak muda berpikir bahwa kekayaan dan kebebasan tanpa batas akan membawa kebahagiaan, namun pada akhirnya justru mendatangkan kekosongan dan kesepian.
Pada bagian ini, ditampilkan pula ayat Alkitab di layar sebagai penguatan firman:
“Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.” (2 Korintus 5:18–19, TB 2)
Ayat ini menegaskan bahwa sumber pemulihan dan pendamaian sejati bukan berasal dari dunia, melainkan dari Allah melalui Yesus Kristus.
Tantangan Era Digital dan Kesepian Anak Muda
Dalam khotbahnya, Ps. Toni juga menyinggung realitas kehidupan anak muda saat ini yang banyak mengalami kesepian, kekeringan rohani, dan kehilangan arah meski dikelilingi teknologi canggih. Beliau menyampaikan bahwa banyak remaja akhirnya mencari pelarian melalui gawai (gadget), media sosial, bahkan kecerdasan buatan seperti ChatGPT.
Menurut beliau, ketika hidup seseorang sedang tidak baik-baik saja, teknologi bisa menjadi pelarian yang nyaman karena selalu tersedia, responsif, dan menyenangkan. Namun, jika tidak dikendalikan, ketergantungan ini dapat menjauhkan remaja dari kehidupan nyata, keluarga, tanggung jawab, dan Tuhan. Ps. Toni juga membagikan ilustrasi nyata, seperti seorang mahasiswa yang menyalahgunakan ponselnya saat seharusnya belajar, serta kisah remaja yang melupakan tanggung jawab demi berkomunikasi dengan pacarnya. Hal-hal tersebut menunjukkan bagaimana kecanduan gawai dapat merusak mental, moral, dan kehidupan rohani generasi muda.
Makna Kebebasan yang Sesungguhnya
Salah satu pesan kuat yang disampaikan adalah tentang arti kebebasan. Melalui ilustrasi pertengkaran antara ibu dan anak, Ps. Toni menegaskan bahwa keinginan untuk “bebas” sering kali berarti memutuskan hubungan, baik dengan keluarga, sesama, maupun Tuhan. Beliau menegaskan bahwa:
“Bebas itu sama saja dengan memutuskan hubungan.”
Pesan ini diperkuat dengan pernyataan bahwa segala sesuatu yang berakhir dengan kata ‘putus’ bukanlah kehendak Tuhan, karena Tuhan menghendaki pemulihan, bukan keterpisahan. Firman kemudian ditutup dengan ajakan pertobatan yang diambil dari Lukas 15:18–19 (TB 2), diikuti dengan doa yang menegaskan bahwa siapa pun dan bagaimanapun keadaan seseorang, Tuhan Yesus tetap menerima dan mengasihi.

Pelayanan Doa dan Penyembahan
Setelah firman, suasana kembali dibawa ke dalam Praise & Worship melalui lagu Pribadi yang Mengenal Hatiku, Anugerah Terindah, Mujizat dalam Bersyukur, dan Kepenuhan Roh Kudus. Para pendoa kemudian mendoakan peserta satu per satu. Banyak peserta yang terharu dan merasakan kelegaan setelah didoakan.
Acara semakin meriah saat lagu Laskar Kristus dinyanyikan. Para peserta membuat barisan seperti kereta-keretaan mengelilingi ruangan, lalu maju ke depan panggung sambil bernyanyi bersama, menciptakan kebersamaan yang penuh sukacita. Sesi pertama ditutup dengan doa makan, pengumuman, dan istirahat makan siang.
Sesi 2: Refleksi dan Pemulihan Pribadi
Sesi kedua dimulai dengan ice breaker, doa pembuka, dan persiapan group discussion. Peserta dibagi ke dalam kelompok kecil dengan pendamping. Salah satu pendamping, Kak Nicho, membagikan kesaksian hidupnya tentang masa sekolah yang penuh kenakalan hingga tidak naik kelas. Namun, melalui disiplin dan proses yang berat, ia mengalami perubahan hidup.
Dalam sesi berbagi (sharing), peserta diberi ruang untuk menceritakan pergumulan masing-masing. Ada yang berbagi secara terbuka dalam kelompok, ada pula yang memilih berbicara secara pribadi dengan pendamping. Pesan utama yang ditekankan adalah bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan, namun setiap orang harus tetap setia menjalankan tanggung jawab dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.
Acara dilanjutkan dengan solitude, Praise & Worship dengan lagu Sejauh Timur dari Barat, serta pernyataan penutup (closing statement) yang menegaskan bahwa masalah hidup tidak akan selesai jika hubungan dengan Tuhan belum dipulihkan. Kisah Esau dan Yakub juga dibagikan sebagai refleksi tentang hubungan, pengampunan, dan konsekuensi pilihan hidup.
Altar Call
Pada sesi altar call, banyak peserta maju ke depan untuk didoakan. Suasana penuh haru terasa ketika beberapa peserta melepaskan beban yang selama ini dipendam. Doa dan penyembahan melalui lagu Kemenangan Itu Bagianku, Kusorakkan Halleluya, dan Kumenang menjadi penutup yang penuh pengharapan. Seminar diakhiri dengan doa penutup dan sesi foto bersama.
Pelajaran yang Dapat Saya Ambil:
Kebebasan tidak selalu berarti kebahagiaan. Kebebasan tanpa tanggung jawab bisa membuat seseorang kehilangan arah dan merusak hubungan. Kebebasan sejati adalah ketika kita tetap terhubung dengan Tuhan dan memahami batasan hidup.
Kesepian tidak selalu terlihat dari luar. Kesepian bukan sekadar soal sendirian, tetapi soal kehilangan relasi yang bermakna. Penting untuk jujur pada diri sendiri dan berani mencari pertolongan.
Teknologi membantu, namun tidak bisa menggantikan relasi. Teknologi harus digunakan sebagai alat, bukan sebagai tempat pelarian dari luka batin atau masalah hidup.
Memutuskan hubungan bukan solusi. "Putus" dari Tuhan atau keluarga bukanlah jalan keluar. Tuhan selalu membuka jalan untuk pemulihan.
Tuhan menerima siapa pun dalam keadaan apa pun. Kita tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk datang kepada-Nya.
Masalah tidak selalu langsung selesai, namun kita tidak sendirian. Fokuslah pada tanggung jawab hari ini dan serahkan hasilnya kepada Tuhan.
Penutup
Seminar Pelajar Gresik 2026 bukan sekadar acara rohani, melainkan ruang pemulihan dan penguatan iman bagi generasi muda. Hubungan dengan Tuhan adalah fondasi utama agar anak muda tetap kuat di tengah arus teknologi dan tuntutan zaman.

“Jangan sia-siakan masa mudamu!”
Penulis: Valensia Ananta Putri - Siswa Kelas X-7 SMA Santa Maria Surabaya