News &
Updates

News Image

Share

Menakar Ulang Demokrasi: Siswa Sanmar Belajar Bersama Romo Magnis dalam Forum Diskusi UC
20 Mei 2026

Surabaya, Kampus Ursulin – Sanmaris – Sabtu, 16 Mei 2026, Universitas Ciputra menyelenggarakan forum diskusi kritis bertajuk “Apa yang Salah dengan Demokrasi?” berlokasi di Dian Auditorium, lantai 7, UC Main Building. Kegiatan ini menghadirkan Franz Magnis-Suseno, SJ, yang biasa disapa Romo Magnis, dan Novi Basuki sebagai narasumber, serta dimoderatori oleh Kandi Aryani Suwito, dosen FISIP Universitas Airlangga dan Universitas Ciputra. Acara yang semula dijadwalkan pukul 08.00 WIB dimulai sekitar pukul 08.30 WIB dan dihadiri oleh mahasiswa, dosen, aktivis, serta masyarakat umum.

Kegiatan diawali dengan sesi refleksi oleh Ita Fatia Nadia, aktivis perempuan dan kemanusiaan yang mendampingi korban tragedi Mei 1998. Ita membagikan pengalaman saat menangani korban kekerasan seksual, mayoritas perempuan keturunan Tionghoa, yang datang ke rumah sakit dalam kondisi memprihatinkan. Salah satu kisah yang disampaikan adalah tentang Fransiska, korban termuda yang akhirnya meninggal bersama ibunya akibat trauma yang dialami. Ita juga turut membantu proses kremasi jenazah keduanya serta mendampingi sekitar 15 korban selama peristiwa tersebut. Suasana auditorium pun menjadi hening dan penuh empati.

Sebagai bentuk refleksi, peserta mengikuti ritual makan rujak pare sambal kecombrang. Kegiatan ini menjadi simbol peringatan tragedi Mei 1998 dan sikap “menolak lupa”. Pare melambangkan pahitnya penderitaan korban, sementara kecombrang melambangkan perempuan sekaligus luka yang dialami. Ritual ini juga menjadi pengingat agar tragedi serupa tidak terulang kembali.

Memasuki sesi utama, Novi Basuki memaparkan pengalamannya selama menempuh pendidikan di Tiongkok serta membandingkan perkembangan negara tersebut dengan Indonesia. Novi menyoroti pentingnya sistem politik, stabilitas, dan kualitas kepemimpinan dalam mendorong kemajuan bangsa. Narasumber ini juga menegaskan bahwa demokrasi tidak hanya soal kebebasan memilih, tetapi harus mampu menghadirkan kesejahteraan. Tantangan demokrasi Indonesia, menurutnya, antara lain tingginya biaya politik, dominasi oligarki, serta lemahnya kaderisasi politik.

Selanjutnya, Romo Franz Magnis-Suseno membahas demokrasi dari perspektif filsafat politik dan sejarah Indonesia. Romo Magnis menegaskan bahwa demokrasi telah menjadi cita-cita para pendiri bangsa dan tercermin dalam nilai-nilai Pancasila. “Demokrasi bukan sekadar memilih pemimpin, tetapi bagaimana kekuasaan dijalankan dengan tanggung jawab, kejujuran, dan penghormatan terhadap martabat manusia,” ujar Romo Magnis. Romo juga menekankan bahwa tantangan utama demokrasi terletak pada kualitas moral pelaksanaannya, bukan pada sistemnya semata.

Diskusi berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Salah satu siswi SMA Santa Maria Surabaya, Agnes Nathania Widodo (Kelas X.1), mengajukan pertanyaan kritis mengenai kondisi demokrasi saat ini. “Jika demokrasi prosedural mudah dibajak oleh uang, dinasti, dan manipulasi opini, apakah akar kegagalannya ada pada moralitas pelaku atau cacat bawaan sistem itu sendiri?” tanya Agnes. Pertanyaan tersebut mendapat perhatian luas karena mewakili keresahan generasi muda terhadap kondisi politik dan demokrasi saat ini.

Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 10.30 WIB ini ditutup dengan suasana reflektif. Sebagian peserta melanjutkan kegiatan ziarah ke makam Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jombang sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh bangsa yang menjunjung tinggi nilai keberagaman dan persatuan.

Penulis: Regina Patricia Christabel & Osvaldo Ferdinand Cannavaro (Siswa Kelas X, SMA Santa Maria Surabaya)