Surabaya, Kampus Ursulin. Selama tiga hari, mulai dari Selasa, 28 April, hingga Kamis, 30 April 2026, saya berkesempatan untuk menjalani keseharian di Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Koordinator Jawa Timur. YKI sendiri merupakan lembaga nirlaba yang menjadi pilar pendukung penting bagi para pejuang kanker di Indonesia. Mereka menyediakan rumah singgah di Jawa Timur bernama Rumah Singgah Sasana Marsudi Husada 2 yang berfungsi menyediakan fasilitas penginapan bagi pasien yang datang dari berbagai pelosok daerah, baik dari dalam maupun luar pulau, untuk menjalani pengobatan jangka panjang jauh dari kampung halaman mereka.
Kegiatan saya dimulai pada hari Selasa (28/4). Hal pertama yang saya lakukan adalah datang pada pukul 08.30 WIB dan bersilaturahmi dengan staf serta beberapa pasien di YKI. Secara kebetulan, terdapat beberapa mahasiswa psikologi dari Untag yang sedang bermagang di YKI. Pukul 09.00 WIB, saya menjalani orientasi singkat bersama Pak Adi selaku Staf Pelaksana, dan Pak Sani selaku Koordinator YKI Cabang Jawa Timur. Kemudian, Pak Sani mengajak saya dan tiga mahasiswa Untag untuk mengunjungi dan mengelilingi RSUD dr. Soetomo menjelang siang, sekitar pukul 11.30 WIB.

Setelah kembali ke rumah singgah, agenda selanjutnya yang saya lakukan pada sore hari adalah membangun pojok membaca dari buku koleksi pribadi saya dan keluarga, dengan bantuan donasi teman saya di Sanmar, dengan harapan sudut baca ini bisa menjadi hiburan yang bermanfaat bagi penghuni rumah singgah. Pada sore hari, saya membantu Bu Isnik, koki di area kantin, dengan memanggil penghuni rumah singgah untuk mengambil makanan gratis untuk dinikmati bersama. Menu yang dimasak oleh Bu Isnik pada saat itu adalah beraneka jenis ikan goreng, tahu, tempe, sayur lodeh, dan potongan buah melon. Saya menggunakan kesempatan tersebut untuk berkenalan dengan Ibu dan Bapak Shoim, pasangan suami istri yang menginap di lokasi. Kegiatan makan malam tersebut menjadi penutup hari pertama saya.
Esok harinya, Rabu (29/4), saya bangun cukup awal, tepatnya pukul 04.40 WIB, untuk mendampingi Ibu dan Bapak Shoim menuju RSUD dr. Soetomo untuk proses radiasi. Ibu Shoim sendiri merupakan pejuang kanker asal Bojonegoro yang menetap di Rumah Singgah Sasana Marsudi Husada 2. Kami berangkat pukul 05.55 WIB dan sampai di RSUD dr. Soetomo sekitar pukul 06.15 WIB. Proses kami di rumah sakit berjalan selama dua jam. Pada rentang waktu tersebut, saya mengamati proses registrasi, pendataan, dan pelaksanaan radioterapi yang dilakukan secara bertahap. Saya belajar bahwa banyak pasien kanker memilih untuk datang lebih awal agar menghindari antrean yang panjang dan lama.
Setelah kembali dari rumah sakit, kami sampai di YKI pada pukul 09.30 WIB. Saya menemui Pak Adi yang memberi saya pengetahuan mengenai proses administrasi pasien untuk memahami pengelolaan 23 pasien yang saat ini tinggal di sana, mulai dari proses booking, penempatan pasien di kamar yang mereka pilih saat mereka datang, sampai ke pengumpulan identitas formal dan surat rujukan mereka sebagai bukti bahwa mereka adalah pasien kanker.
Sore harinya, saya mengikuti kegiatan pengajian bersama para pasien untuk penguatan spiritual. Hal ini dilakukan agar semangat perjuangan pasien kanker, serta ketabahan dan kesabaran pendamping mereka, tetap terjaga dengan baik. Hari yang produktif ini ditutup dengan makan malam di warung depan YKI yang dimiliki oleh Pak Agus, Staf Pembersih YKI, dan istrinya sambil berbincang santai mendengarkan pengalaman hidup dari warga sekitar dan Pak Agus sendiri. Setelah selesai bersantap dan berbincang, saya kembali masuk ke YKI untuk beristirahat karena pada esok harinya, saya akan mendampingi Ibu dan Bapak Shoim untuk kedua kalinya.

Kegiatan saya pada Kamis (30/4) kembali diawali pukul 05.55 WIB, yaitu dengan menemani Ibu Shoim menjalani sesi radiotherapy di RSUD dr. Soetomo. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, kali ini suasana terasa jauh lebih hangat karena Ibu dan Bapak Shoim sendiri sudah menganggap saya seperti anak mereka sendiri. Menunggu di tengah padatnya pasien dari berbagai penjuru Jawa Timur menyadarkan saya betapa besarnya harapan yang tertumpu pada fasilitas kesehatan di beberapa rumah sakit yang memiliki alat-alat sesuai untuk mengobati pasien kanker, serta organisasi yang mendukung pasien-pasien tersebut seperti YKI.
Setelah semua proses radioterapi selesai, Ibu dan Bapak Shoim kembali ke Bojonegoro untuk beristirahat. Saya pun berpamitan dengan mereka karena saya masih perlu menjalani kegiatan di YKI. Sesampainnya di YKI, saya berbincang-bincang dengan Pak Sani dan Pak Adi mengenai aspek sosial, ekonomi, dan psikologis dari masalah kanker di masyarakat Indonesia. Lalu, saya kembali ke kamar untuk membereskan perlengkapan sebelum pulang. Beriringan dengan jam pulang kantor, sekitar pukul 17.15 WIB, saya berpamitan dengan semua staf YKI dengan penuh kehangatan dan rasa syukur.
Pengalaman di YKI menyadarkan saya bahwa kanker bukan hanya sekadar masalah medis, melainkan sebuah masalah kompleks yang mencakup aspek sosio-ekonomi disertai berbagai tantangan psikologis. Secara sosial, keterbatasan akses di daerah memaksa mereka melakukan mobilisasi jauh dari rumah. Masalah sosial juga datang dari rendahnya kesadaran masyarakat mengenai kanker, terlihat dari berbagai stigma yang memengaruhi pandangan masyarakat terhadap kanker dan pengobatannya. Pak Adi dan Pak Sani bercerita bahwa kebanyakan pasien kanker di YKI telah menunda pengobatan medis mereka karena rasa takut atau malu, yang dibarengi dengan pengobatan alternatif karena kurangnya sosialisasi mengenai pengobatan medis untuk kanker.

Sementara dari sudut pandang ekonomis, beban biaya medis dan non-medis serta hilangnya produktivitas sering kali menghimpit perjuangan pasien karena dana yang mereka butuhkan tidak cukup, bahkan dengan adanya BPJS yang mencakup semua biaya prosedur medis. Di tengah semua tekanan tersebut, beban psikologis timbul dan menjadi masalah yang merapuhkan kekuatan mental pasien melalui rasa cemas dan lelah mental.
Melalui interaksi langsung ini, saya belajar bahwa empati yang nyata seperti kehadiran untuk menemani dan memahami perjuangan mereka sangat penting untuk dilakukan, karena pasien-pasien kanker membutuhkan bantuan lebih dari orang-orang di sekitar mereka untuk menjaga keteguhan di tengah perjuangan yang sulit. Selain empati, mengedukasi diri kita dan orang lain penting dilakukan untuk memberi pemahaman kepada masyarakat umum mengenai kepekaan terhadap gejala-gejala kanker stadium awal. Hal ini bertujuan agar mereka yang menemukan kejanggalan di tubuhnya, seperti benjolan aneh yang muncul secara mendadak, dapat mencari bantuan medis secepat mungkin agar sel kanker segera dimusnahkan pada stadium awal. Secara menyeluruh, pengalaman ini menyadarkan saya bahwa masalah kanker masih rumit di masyarakat Indonesia dan menjadi sebuah tantangan pada dunia medis yang juga bertumpu pada kondisi sosial dan ekonomi rakyat.
Penulis: Nicholas Putra Sedijotomo ( Siswa Kelas XII SMA Santa Maria)