Surabaya, Kampus Ursulin. Sanmaris, pada Jumat, 21 Maret 2025, Kampus Santa Maria Surabaya menerima kunjungan istimewa dari Konsultan UNICEF, Karen Hollely dan Karen Mueller dalam rangka dokumentasi program Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA) di Surabaya. Asisten Deputi Pelayanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK), Ibu Ciput Eka Purwianti, S. Si. MA. dari KemenPPPA juga turut hadir dalam acara ini.
Kunjungan ini menjadi momen berharga bagi seluruh warga Kampus Santa Maria Surabaya, yang telah lama berkomitmen dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak di era digital. Tak hanya itu, beberapa sekolah seperti SMP Negeri 1 dan 15 di Surabaya yang aktif menyuarakan pencegahan OCSEA dan perwakilan Forum Anak Kelurahan juga turut hadir dalam kunjungan ini. Rebecca Straccia, siswi kelas 10, juga turut berpartisipasi dalam kegiatan ini selaku Duta INSAN generasi pertama di Kampus Santa Maria.
Sejak pagi hari, suasana sekolah sudah dipenuhi dengan semangat dan antusiasme. Para siswa, guru, serta staf sekolah tampak bersiap dengan penuh kegembiraan menyambut rombongan UNICEF. Acara penyambutan berlangsung di halaman sekolah dengan pertunjukan Tari Jaranan yang ditampilkan oleh siswa-siswi kelas 7. Dengan gerakan lincah dan penuh energi, para penari menampilkan budaya tradisional yang memukau, mengiringi kedatangan tamu kehormatan. Sambutan hangat berlanjut dengan penampilan orkestra dari SMP Santa Maria Surabaya yang membawakan dua lagu penuh makna, “Melompat Lebih Tinggi” dan “We Are the World”. Kedua lagu ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan optimisme dan harapan bagi generasi muda untuk terus maju dan berkembang dalam lingkungan yang aman.
Setelah sesi penyambutan yang penuh semangat, rombongan UNICEF bersama perwakilan sekolah dan tamu undangan naik ke Aula lantai 4 untuk sesi diskusi. Dalam sesi tersebut, DUTA INSAN (Internet Sehat dan Aman) dari SMP Santa Maria Surabaya dan SMP Negeri 1 Surabaya menjelaskan berbagai praktik program OCSEA yang telah diterapkan dalam lingkup sekolah melalui Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK). Penjelasan ini disampaikan oleh para Duta INSAN dengan penuh keyakinan, mencerminkan dedikasi sekolah dalam membangun kesadaran terhadap bahaya OCSEA.
Suasana semakin intens saat sesi Focus Group Discussion (FGD) dimulai. Dalam diskusi yang interaktif dan dinamis ini, para peserta yang terdiri dari Duta INSAN dan perwakilan UNICEF berbagi wawasan, pengalaman, serta tantangan yang mereka hadapi dalam upaya pencegahan eksploitasi seksual anak secara daring. Tidak hanya itu, sesi ini juga membuka ruang bagi para Duta INSAN untuk menyuarakan pemikiran mereka, menunjukkan betapa pentingnya keterlibatan anak-anak dalam upaya perlindungan diri di dunia digital.
Lewat kunjungan ini, diharapkan tidak hanya menjadi ajang berbagi pengalaman, tetapi juga memberikan motivasi bagi seluruh pihak untuk terus memperkuat upaya perlindungan anak dari eksploitasi seksual daring. Dengan dokumentasi dari UNICEF, diharapkan praktik baik pencegahan OCSEA yang telah diterapkan di Surabaya dapat menjadi referensi bagi kota bahkan negara lainnya.
Kunjungan ini juga menjadi pengingat bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen yang kuat, diharapkan pula masa depan anak-anak Indonesia akan semakin cerah, bebas dari ancaman eksploitasi, dan penuh dengan peluang untuk berkembang menjadi generasi yang cerdas!
Arek-arek Suroboyo? Jaga Bareng, Lawan OCSEA!
Penulis: Rebecca Straccia Lim, Duta INSAN & Siswa kelas X SMA Santa Maria Surabaya