Kampus Ursulin – Surabaya. Teriknya mentari menyentuh kalbu, tak terasa angin memberi diri ini rasa. Di pagi itu, setetes embun menghiasi dedaunan yang sedang mekar. Suasana tenang dan damai mengiringi langkah peserta didik kelas XII SMA Santa Maria Surabaya yang memasuki sekolah dengan senyuman di bibir, inilah hari yang dinanti-nantikan, hari di mana saya dan teman-teman kelas XII SMA Santa Maria Surabaya akan mengikuti kegiatan studi budaya. Di antara hiruk pikuk kota yang sibuk dan kepenatan kehidupan modern, para siswa merindukan pelukan alam yang jauh dari keramaian. Ada yang mengatakan bahwa proses pembelajaran akan semakin lengkap apabila juga dilakukan di luar kelas, dengan harapan bahwa akan ada semakin banyak hal yang bisa ditemukan dan dipelajari. Setiap sekolah tentunya memiliki gaya dan konsep masing-masing, tetapi tujuannya tetap sama, yakni membentuk pribadi-pribadi berkarakter dalam diri setiap peserta didik. Salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh SMA Santa Maria adalah studi budaya. Hari itu, Rabu, 2 November 2023, kami mengikuti kegiatan studi budaya di desa Karangtanjung, Yogyakarta, selama tiga hari dua malam. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pendidikan karakter secara terintegrasi di luar kelas, mengenal kehidupan masyarakat, memahami keberagaman, meningkatkan toleransi, dan menguatkan profil pelajar Pancasila. Kegiatan studi budaya ini dimulai pada, 2 hingga 4 November 2023. Rabu pagi, saya dan teman-teman tiba di sekolah dan lanjut menggunakan bis menuju desa Karangtanjung, Pandowoharjo, Sleman. Bus perlahan menjauh dari kebisingan Kota Pahlawan menuju desa Karangtanjung. Petualangan kami dimulai dengan kesederhanaan dan keelokan alam, terbawa dalam perjalanan menuju hidup yang lebih mendalam.
“Selamat datang di Kampung Iklim, Karangtanjung” sambut Pak Aris, selaku panitia desa dengan toa di genggamannya. Saya dan seluruh peserta didik kelas XII tiba di kampung Iklim, Karangtanjung pukul 12.30, disambut dengan suasana kampung iklim bak surga tersembunyi yang menyegarkan mata dengan pemandangan hijau dari hamparan sawah yang luas. Udara segar menemani langkah kami memasuki kawasan desa, menghirup tawa-tawa semangat yang terlekat di setiap helai rerumputan. Mentari pun senantiasa melukis warna-warni di langit, seakan-akan menyambut dengan kehangatan, seperti warga desa yang berbaris menyambut, setiap dari kami yang datang diberikan hiasan kepala dari janur sebelum memasuki pendopo, serta segelas teh manis hangat sebagai pelepas penat setelah perjalanan jauh yang memakan waktu kurang lebih 4-5 jam. Kemudian kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menuju ke rumah-rumah sementara yang akan ditinggali selama berada di tempat ini. Setelah berkenalan dengan induk semang dan membereskan barang bawaan di homestay masing-masing, saya dan teman-teman berkumpul kembali untuk bermain permainan tradisional Gobak Sodor, Bakiak, dan Egrang. Semuanya bermain dengan penuh semangat dan gembira. Dalam keramaian kebahagiaan, seakan-akan menyeret saya dalam bayang-bayang nostalgia jauh di ruang pikiran paling dalam. Sejenak diri ini menatap sayu nostalgia itu dan merasakan waktu bergerak seperti getar rindu. Kami menapaki setiap jalanan tanah, menyimpang dari jalan yang wara-wiri dibabat waktu. Dan di tengah-tengah keramaian euforia permainan tradisional, kami, bapak/ ibu guru dan warga desa menemukan satu sama lain, terjalin dalam ikatan kebersamaan yang tak tergoyahkan.
Konsep kegiatan studi budaya kali ini menurut saya sangat khas. Di dalam kegiatan ini, kami, peserta didik kelas XII, diajak untuk tinggal bersama dan mengalami perjumpaan dengan warga di rumah yang kami tinggali. Kami harus bisa meninggalkan kebiasaan kami di rumah dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat di homestay induk semang masing-masing. Setelah berkegiatan memainkan permainan tradisional, hati saya tergerak untuk memberikan diri saya seutuhnya dan mengikuti seluruh kegiatan yang dilakukan oleh anggota keluarga di rumah, sebab saya ingin mendekatkan diri dengan induk semang saya. Saya mengajak pula teman-teman satu homestay untuk mengenal lebih dalam induk semang kami, sembari menyantap hidangan yang telah disiapkan. “Monggo,monggo nduk dimakan”, sambut pak Jumarno, selaku induk semang di homestay yang saya tinggali. Satu hal yang bisa saya gambarkan pada beliau, sederhana namun luar biasa. Pria paruh baya dengan selera humor yang tinggi ini sejak lahir masih setia melukiskan perjalanan hidupnya di desa Karangtanjung, alasannya? Sepertinya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Dengan pesona keindahan alam yang sejuk nan asri, membuat siapa saja betah, walau sudah mendiami desa ini berpuluh-puluh tahun lamanya. Begitu juga saya yang ingin berlama-lama menikmati sejuknya udara kehidupan di sana, rasanya hanya ada kedamaian di hati.
Sejak menikah dengan istrinya, keluarga cemara pak Jumarno telah dikaruniai dua anak, satu anak perempuan dan satu anak laki-laki. Keduanya sedang merantau di Jakarta untuk bekerja. “Saya senang mereka bisa mandiri, saya menaruh harapan besar pada anak saya, yang terpenting mereka bisa menjadi orang sukses”, tuturnya. Bagi beliau, hidup sederhana seperti sekarang ini sudah lebih dari cukup, bahkan sangat cukup. Beliau sangat bersyukur atas apa yang dimilikinya sekarang, terutama kebersamaan bersama keluarga dan warga desa Karangtanjung. Menurutnya, kerja keras sangat penting untuk dimiliki, di tengah kerasnya jaman ini. “Hidup itu dinikmati, jalani saja alurnya. Intinya, jangan menjadikan jarak, waktu, dan rasa letih sebagai hambatan untuk meraih impian. Suatu saat nanti kalau kalian sudah sukses, jangan lupa sama saya, mampir-mampir kesini lagi ya”, pesan beliau pada saya dan teman-teman satu homestay.
Tanpa disadari waktu sudah menunjukan pukul 19.00, saya langsung bersiap untuk berkumpul di pendopo, mengikuti kegiatan terakhir di hari pertama, yakni membuat kerajinan janur. Bentuk-bentuk kerajinan tangan dari janur yang bervariasi menjadikan kegiatan ini begitu menarik. Dari keris, pecul, hingga yang paling sulit adalah bentuk belalang, pembuatan janur memungkinkan kami semua untuk mengekspresikan kreativitas. Di tengah gempuran teknologi dan budaya yang semakin modern, kerajinan tangan dari janur tetap bertahan dan menjadi kebanggaan budaya. Yang saya kagumi adalah warga desa Karangtanjung tidak sekedar membentuk dan menyusun janur sebagai suatu kesatuan, mereka mampu menggunakannya sebagai media hebat untuk menyampaikan cerita budaya, kearifan lokal, dan kehidupan sehari-hari. Keberadaan mereka tidak hanya berkaitan dengan aspek estetika semata, tetapi juga menunjukkan nilai-nilai kearifan lokal dan ketekunan dalam menghadapi perubahan zaman.
Tiba di hari kedua, terik matahari menemani saya dan teman-teman jalan-jalan mengelilingi desa, menjelajahi setiap sudut desa yang dijejali pesona, melalui sebuah jalan desa yang tak terlalu lebar membelah sawah dan ladang. Terpisah dari dunia digital, saya dan teman-teman terlibat langsung dalam kegiatan pertanian, seolah-olah mengambil peran sebagai petani. Mulai dari membajak sawah, kunjungan ke peternakan sapi/ kambing, menanam padi dengan harapan di hati, serta mengunjungi empang tempat budidaya ikan. Ternyata menjadi petani tidaklah mudah, prosesnya melibatkan banyak tahapan seperti persiapan lahan, penanaman bibit, perawatan tanaman, dan panen. Kegiatan ini menyadarkan saya bahwa petani adalah pahlawan masa kini dalam mewujudkan swasembada pangan di Indonesia. Bagi saya, kegiatan yang paling seru dan menantang yakni menangkap ikan dengan berbagai strategi. Suatu kebanggaan tersendiri saya berhasil menangkap 15 ikan lebih, ikan yang ditangkap kemudian dibawa siswa ke rumah induk semang masing-masing untuk dimasak menjadi santapan siang. Usai istirahat dan mandi, malam harinya siswa siswi berkumpul bersama tokoh masyarakat, melaksanakan acara kenduri, bersantap malam dengan riang. Pada acara yang terjalin dengan akrab ini, hadir pula Bapak Aris yang ikut memberikan sambutan bahkan menyumbangkan lagu menghibur semua yang hadir. Tidak lupa, setiap acara perpisahan, seringkali dilantunkan lagu “Kemesraan”. Lagu “Kemesraan” dinyanyikan bersama sebagai tanda berakhirnya acara pada malam tersebut. “Kemesraan ini.. Jangan lah cepat berlalu..”. Jujur saja, sampai sekarang lagu penggalan lirik tersebut masih terngiang di telinga, dengan kenyataan bahwa malam itu adalah puncak acara terakhir sebelum meninggalkan desa Karangtanjung. Di tengah kebahagiaan kegiatan kenduri, kebersamaan melukiskan rentetan-rentetan cerita yang mengikat kami menjadi satu, seiring angin malam desa yang menjadi saksi bisu kebersamaan kami.
Hari ketiga pun tiba, dengan berat hati, perpisahan yang tak terelakkan. Setelah makan pagi bersama induk semang di rumah masing-masing, saya dan teman-teman satu homestay berfoto bersama dengan induk semang sekaligus berpamitan seraya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas penerimaan kami di masing-masing keluarga tersebut. Saling bersalaman dengan rasa haru, kami meninggalkan desa dengan tatapan yang penuh dengan kerinduan. Di langit, burung-burung terbang bebas merentangkan sayap mencari sinar terang pada perjalanannya selanjutnya.
Pergi dari desa Karangtanjung, Pandowoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, bukan berarti perjalanan kami selesai. Biji-biji pengalaman telah ditanam di dalam hati kami, bak benih yang akan tumbuh dan berkembang di tempat lain. Harapannya kami akan menjadi cahaya yang memandu langkah kami, menyebarkan kebaikan dan kearifan yang dipelajari dalam studi budaya di desa Karangtanjung. Saya menyadari bahwa pengalaman selama tiga hari dua malam bukan sekadar petualangan fisik, tetapi perjalanan spiritual yang menyentuh hati. Di desa inilah saya belajar arti sebenarnya dari hidup, seperti slogan yang ditanamkan pada kami yakni “Sekokoh batu karang, seharum bunga tanjung”, memberikan pelajaran berharga yang tak ternilai harganya. Studi budaya di desa Karangtanjung, Jogja, telah membuka tirai rahasia kehidupan yang penuh makna dan kearifan. Slogan yang diusung oleh warga desa tersebut, "Sekokoh batu karang, seharum bunga tanjung," telah menjadi jendela hati saya terhadap filosofi dan nilai-nilai yang menghiasi kehidupan mereka. Batu karang yang kokoh mengajarkan saya tentang ketangguhan dan ketabahan. Seperti halnya batu karang yang dapat menghadapi gelombang badai tanpa goyah, warga desa mengajarkan betapa pentingnya untuk tetap kokoh dalam menghadapi ujian kehidupan. Mereka tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh sebagai pribadi yang kuat dan teguh, layaknya batu karang yang bersatu padu membentuk pondasi yang kokoh.
Namun, tidak hanya kekuatan fisik yang ditanamkan oleh batu karang. Lebih dari itu, keharuman bunga Tanjung mengingatkan saya akan keindahan dalam memberi dan menerima. Warga desa memancarkan kebaikan seperti aroma bunga yang menyegarkan hati. Kelembutan dan kehangatan dalam berinteraksi menjadi kekuatan yang memperindah hubungan antarwarga, menciptakan ikatan yang begitu erat. Filosofi ini meresap dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dalam kesederhanaan desa, saya belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu terletak pada kemewahan materi, tetapi pada kedalaman hubungan dan saling menghargai. Melalui senyum yang tulus dan bantuan tanpa pamrih, warga desa membuktikan bahwa kebahagiaan sejati dapat ditemukan dalam kebaikan hati dan kepedulian terhadap sesama.
Pengalaman ini memberi saya pemahaman yang mendalam bahwa kehidupan memiliki banyak lapisan seperti batu karang yang terbentuk seiring waktu. Setiap ujian dan kebahagiaan membentuk pola yang unik dan tak tergantikan. Saya menyadari bahwa kehidupan bukanlah perlombaan, melainkan perjalanan yang penuh makna, di mana setiap langkah dan pengalaman memiliki arti tersendiri. Dengan menghayati filosofi ini, saya merasa terinspirasi untuk membawa nilai-nilai kearifan dari desa Karangtanjung ke dalam kehidupan sehari-hari saya. Kekokohan batu karang dan keharuman bunga Tanjung menjadi pedoman bagi saya untuk menjalani kehidupan dengan keteguhan, kelembutan, dan keindahan. Dan kebersamaan saya dengan warga desa Karangtanjung, teman-teman, juga bapak/ ibu guru merupakan memori yang akan selalu terkenang di tempat yang abadi dalam hati saya, sebuah tempat di mana hidup berpadu dalam harmoni dan keindahan alam yang tiada tara, bagai memori yang takkan hilang dalam perjalanan kehidupan ini.
(Penulis: Sofie Avantie, Siswa SMA Santa Maria kelas XII IPS 1)